Keputusan ini menandai pergeseran signifikan dalam strategi pengembangan browser Microsoft. Selama bertahun-tahun, Edge mengikuti siklus rilis besar setiap empat hingga enam minggu. Kini, perusahaan asal Redmond itu memangkas jadwal tersebut menjadi setengahnya, mengadopsi ritme yang sama dengan Chrome.
Tim pengembang Edge menjelaskan bahwa efek praktis dari siklus baru ini bagi pengguna di jalur stabil adalah perubahan yang lebih kecil dan lebih stabil. Setiap rilis akan membawa konten baru sekitar setengah dari jumlah sebelumnya, tetapi dikirim dua kali lebih sering.
"Peningkatan keamanan dan platform menjangkau pengguna Anda lebih cepat, dan setiap rangkaian perubahan lebih kecil, yang dapat membuat validasi lebih mudah dikelola," tulis tim Microsoft Edge dalam pengumuman resmi mereka, Kamis (17/4).
Bagi pengguna individu di Indonesia, ini berarti fitur baru dan tambalan keamanan akan tiba dalam porsi yang lebih kecil namun lebih sering. Tidak perlu lagi menunggu berminggu-minggu untuk perbaikan bug kecil.
Microsoft tidak sepenuhnya meninggalkan pengguna korporat. Perusahaan tetap mempertahankan Extended Stable Channel untuk Edge yang hanya diperbarui setiap delapan minggu. Opsi ini dirancang bagi organisasi yang membutuhkan stabilitas maksimal dan waktu pengujian lebih panjang sebelum menerapkan perubahan ke seluruh perangkat.
Untuk organisasi yang ingin beradaptasi lebih cepat, Microsoft merekomendasikan pembentukan kelompok uji coba di Beta Channel. Saluran beta untuk Edge dan Chrome juga akan beralih ke siklus dua mingguan mulai September, memungkinkan pengujian fitur lebih awal.
Langkah Microsoft bukanlah kebetulan. Google lebih dulu mengumumkan pada Maret 2026 bahwa Chrome akan beralih ke siklus pengembangan dua minggu mulai Chrome 153 pada September 2026. Google beralasan ingin "memastikan pengembang dan pengguna memiliki akses langsung ke peningkatan performa, perbaikan, dan kemampuan baru terkini."
Kedua browser ini berbagi fondasi yang sama, yaitu mesin Chromium. Ketika Google mengubah ritme pengembangan Chromium, browser lain yang bergantung padanya—termasuk Edge, Opera, dan Brave—tidak punya banyak pilihan selain mengikuti. Jika tidak, mereka akan tertinggal dalam hal patch keamanan dan kompatibilitas dengan standar web terbaru.
Bagi pengguna Edge di Indonesia, tidak ada tindakan yang perlu dilakukan. Pembaruan akan berlangsung otomatis di latar belakang. Namun, pengguna yang sangat sensitif terhadap perubahan antarmuka atau bug mungkin perlu lebih waspada terhadap rilis yang lebih sering mulai akhir Agustus nanti.