LAMPUNG — Persiapan menuju Piala Dunia 2026 belum genap dua bulan lagi, namun FIFA sudah dihadapkan pada potensi sengketa hukum. Organisasi Institute for Voices of Liberty menyatakan keberatan atas rencana larangan bendera Iran pra-revolusi di lokasi pertandingan yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
Menurut laporan yang beredar, langkah hukum bisa ditempuh di pengadilan negara bagian California maupun pengadilan federal Amerika Serikat. Institute for Voices of Liberty menilai kebijakan FIFA berpotensi menimbulkan persoalan hukum dan siap membawanya ke ranah resmi jika tidak ada perubahan.
Hingga saat ini belum ada keputusan final terkait polemik tersebut. Namun ancaman gugatan itu berpotensi menjadi salah satu isu paling disorot menjelang kick-off Piala Dunia 2026 pada 11 Juni mendatang.
Di luar kontroversi bendera, perjalanan Timnas Iran menuju Amerika Utara masih dihiasi ketidakpastian. Presiden Federasi Sepak Bola Iran, Mehdi Taj, mengungkapkan skuad negaranya belum mendapatkan visa untuk mengikuti turnamen.
Kondisi itu menambah daftar persoalan yang harus diselesaikan sebelum keberangkatan tim. Situasi geopolitik yang sensitif ikut membayangi, apalagi setelah muncul sejumlah komentar dari Presiden AS Donald Trump yang menambah ketidakpastian menjelang turnamen.
Sejumlah pihak sebelumnya menyuarakan kekhawatiran terkait keamanan tim nasional Iran selama berada di Amerika Serikat. Iran sendiri telah menggelar kegiatan penyambutan menjelang Piala Dunia melalui sebuah acara di Teheran, namun persiapan tim belum sepenuhnya berjalan mulus.
Piala Dunia 2026 menjadi edisi pertama dengan format baru dan tiga negara tuan rumah. Selain mempersiapkan penyelenggaraan turnamen terbesar dalam sejarah, FIFA kini harus menghadapi potensi sengketa hukum yang berkaitan dengan Iran.