Paus Leo XIV Serukan Regulasi AI Agar Tak Perparah Kesenjangan dan PHK Massal

Penulis: Teguh Prasetyo  •  Senin, 25 Mei 2026 | 20:32:34 WIB
Paus Leo XIV menyerukan regulasi AI untuk mencegah kesenjangan sosial dan PHK massal.

LAMPUNG — Vatikan — Paus Leo XIV secara resmi menyuarakan sikapnya terhadap perkembangan kecerdasan buatan. Dalam dokumen ensiklik pertamanya yang dirilis Senin lalu, pemimpin Gereja Katolik ini mengingatkan bahaya konsentrasi kekuasaan dan kekayaan akibat penerapan AI yang tidak terkendali.

Dokumen setebal 42.300 kata (versi bahasa Inggris) ini merupakan tradisi gereja yang sudah berlangsung hampir 400 tahun. Paus menyampaikan pandangannya di hadapan Christopher Olah, salah satu pendiri Anthropic, perusahaan di balik model AI Claude.

Apa Ancaman Utama AI Menurut Paus?

Paus menyoroti kekeliruan yang menganggap AI setara dengan kecerdasan manusia. Menurutnya, AI hanyalah tiruan dari fungsi intelektual tertentu, bukan kecerdasan sejati.

"So-called artificial intelligences do not undergo experiences, do not possess a body, do not feel joy or pain, do not mature through relationships and do not know from within what love, work, friendship or responsibility mean," tulis Paus dalam dokumen tersebut. Ia menambahkan bahwa AI tidak memiliki hati nurani moral karena tidak bisa membedakan baik dan buruk.

Konsekuensinya, meski AI bisa meniru bahasa, perilaku, atau bahkan simulasi empati, sistem ini tidak benar-benar memahami apa yang dihasilkannya. Paus menekankan bahwa AI kekurangan perspektif afektif, relasional, dan spiritual yang menjadi fondasi pertumbuhan manusia.

Regulasi dan Dampak ke Pekerjaan

Paus secara eksplisit mendesak pemerintah untuk membangun alat regulasi yang mampu "upholding justice and curbing the distorting effects of technological power." Kekayaan saat ini sudah terkonsentrasi di tangan segelintir orang, dan AI berpotensi memperparah ketimpangan itu.

Ia juga memperingatkan bahwa AI dan keuntungan yang dihasilkannya tidak boleh dijadikan alasan untuk membenarkan pemutusan hubungan kerja massal. Paus mendorong adanya program pelatihan ulang dan perlindungan tenaga kerja bagi mereka yang posisinya terancam oleh otomatisasi.

Dalam ranah keamanan, Paus menegaskan bahwa keputusan terkait penggunaan senjata harus tetap berada di tangan manusia, bukan AI. Ini menjadi salah satu poin paling tegas dalam dokumen tersebut.

Perlindungan Anak dan Literasi Digital

Paus juga menyerukan aliansi pendidikan untuk era digital. Tujuannya mendorong generasi muda berpikir kritis tentang AI dan tidak apatis dalam mencari kebenaran. Regulasi, menurutnya, juga harus melindungi anak-anak dari konten AI yang "violent or degrading," termasuk eksploitasi seksual dan grooming.

Sikap Vatikan: Bukan Anti-Teknologi

Meski kritis, Paus tidak memandang AI sebagai kekuatan yang bermusuhan dengan kemanusiaan. Jika dikelola secara hati-hati, AI disebut bisa "open up a horizon extending in all directions." Vatikan sendiri sudah bekerja sama dengan Translated, penyedia layanan bahasa, untuk menyediakan terjemahan langsung bertenaga AI bagi jemaat Misa sejak Februari lalu.

Apa Dampak Seruan Ini bagi Pengguna Teknologi?

Bagi pengguna teknologi di Indonesia, seruan Paus menjadi pengingat bahwa di balik kemudahan AI, ada risiko sosial yang perlu diantisipasi. Regulasi yang adil dan perlindungan tenaga kerja menjadi isu yang relevan, terutama saat adopsi AI di sektor layanan dan manufaktur mulai masif.

Pembaca yang ingin memahami lebih dalam soal etika AI bisa merujuk langsung ke dokumen ensiklik Vatikan yang tersedia dalam beberapa bahasa.

Reporter: Teguh Prasetyo
Sumber: engadget.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top