BANDAR LAMPUNG — BMKG Stasiun Meteorologi Radin Inten II memantau 203 titik panas atau hotspot yang tersebar di 13 kabupaten dan kota di Provinsi Lampung pada Minggu (23/8/2026) pukul 00.00-23.00 WIB. Data yang diolah dari satelit Terra, Aqua, Suomi-NPP, dan NOAA20 ini menunjukkan 30 titik berada pada tingkat kepercayaan tinggi atau berstatus merah.
Forecaster BMKG Radin Inten II, Pebri Surgiansyah, menegaskan bahwa keberadaan hotspot tidak serta-merta berarti telah terjadi kebakaran. Namun, titik dengan tingkat kepercayaan tinggi perlu menjadi perhatian serius dan ditindaklanjuti dengan pengecekan langsung di lapangan.
Kabupaten Mesuji mencatatkan diri sebagai wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak, yakni 57 titik. Posisi berikutnya ditempati Way Kanan dengan 36 titik, kemudian Tulang Bawang 27 titik, Lampung Tengah 19 titik, Lampung Utara 16 titik, dan Tulang Bawang Barat 15 titik.
Wilayah lain yang turut terdeteksi titik panas antara lain Lampung Selatan 14 titik, Pesisir Barat 6 titik, serta Lampung Timur dan Pesawaran masing-masing 5 titik. Sementara itu, Kota Bandar Lampung, Lampung Barat, dan Tanggamus masing-masing mencatat satu titik panas.
Dari total 203 titik tersebut, selain 30 titik berstatus merah, terdapat 171 titik dengan tingkat kepercayaan sedang. Dua titik lainnya berada pada tingkat kepercayaan rendah.
Pebri menjelaskan bahwa data satelit tersebut merupakan indikasi adanya suhu permukaan yang lebih tinggi dari area sekitarnya. "Hotspot tidak serta-merta menunjukkan adanya kebakaran. Namun, titik dengan tingkat kepercayaan tinggi perlu menjadi perhatian dan ditindaklanjuti dengan pengecekan di lapangan," ujarnya.
BMKG mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan, terutama di wilayah yang terpantau memiliki banyak hotspot. Aktivitas yang dapat memicu api seperti membakar jerami atau membuka lahan dengan cara dibakar sebaiknya dihindari.
"Untuk wilayah yang banyak terpantau hotspot, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan dan menghindari aktivitas yang dapat memicu terjadinya kebakaran lahan," kata Pebri. Pihaknya juga mengingatkan agar keberadaan hotspot selalu dilihat bersama kondisi cuaca dan situasi di lapangan untuk memastikan apakah titik tersebut berkaitan dengan kejadian kebakaran hutan dan lahan.