BANDAR LAMPUNG — Aktivitas Gunung Anak Krakatau yang meningkat memaksa Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung mengevaluasi ulang kebijakan pembelajarannya. Para siswa diminta kembali belajar dari rumah secara daring selama dua hari ke depan.
Keputusan ini merupakan pembaruan dari kebijakan sebelumnya yang sempat mengizinkan pembelajaran tatap muka. Perubahan mendadak tersebut dilakukan setelah pemerintah menerima informasi terbaru mengenai potensi bahaya erupsi yang mengarah ke wilayah Lampung.
Keputusan Berubah Usai Erupsi Sore Hari
Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela menyampaikan bahwa kebijakan ini diputuskan pada Selasa (8/9) malam. Hal itu menyusul erupsi GAK yang terjadi sekitar pukul 17.00 WIB dengan durasi lebih dari 30 detik.
"Setelah kami mendapatkan perkembangan terbaru serta perkembangan arah yang menuju Provinsi Lampung atau wilayah Lampung dan adanya potensi bahaya di Lampung, kami kembali melakukan penyesuaian kebijakan tersebut," kata Jihan saat memberikan keterangan di Pusdalops BPBD Lampung, Selasa malam.
Jihan mengakui bahwa keputusan ini berubah dari informasi yang sempat disampaikan pemerintah sebelumnya. Perubahan dilakukan semata-mata sebagai langkah antisipasi terhadap potensi ancaman gunung api tersebut.
Evaluasi Berkelanjutan Menunggu Perkembangan GAK
Pemprov Lampung memastikan kebijakan ini tidak bersifat permanen. Pihaknya akan terus memantau aktivitas GAK sebelum menentukan langkah pembelajaran selanjutnya.
"Kami memahami bahwa keputusan ini berubah dari informasi yang kami sampaikan sebelumnya. Situasi ini diambil karena adanya perkembangan atau pertimbangan dari perkembangan situasi yang kami dapatkan," jelas Jihan.
Masyarakat dan orang tua siswa diminta memaklumi perubahan kebijakan yang terjadi dalam waktu singkat. Pemerintah menilai keselamatan warga, khususnya pelajar, menjadi prioritas utama di tengah kondisi kegunungapian yang fluktuatif.