POROSLAMPUNG.COM — Gemuruh dan dentuman letusan Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda terdengar jelas hingga kawasan pesisir Provinsi Lampung dan Banten. Meski aktivitas vulkanik ini mencatatkan intensitas tertinggi sepanjang 2026, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) memastikan erupsi tidak memicu ancaman tsunami. Warga diimbau untuk tidak panik dan mematuhi batas aman aktivitas sejauh 3 kilometer dari kawah aktif.
Aktivitas vulkanik berupa pancaran lava atau lava fountain ini tercatat sebagai yang tertinggi sepanjang tahun 2026. Periode pengamatan pukul 00:00–06:00 WIB mendeteksi satu kali gempa letusan dengan amplitudo maksimum mencapai 70 milimeter serta durasi panjang selama 21600 detik.
PVMBG Tegaskan Nihil Potensi Tsunami
Kepanikan warga pesisir terkait potensi gelombang tinggi langsung ditepis otoritas terkait. PVMBG memastikan letusan ini tidak berpotensi menimbulkan tsunami ke daratan sekitarnya.
Risiko tsunami dinilai sangat kecil bahkan nyaris tidak ada. Hal tersebut dikarenakan dimensi fisik Gunung Anak Krakatau saat ini tergolong relatif kecil untuk memicu pergeseran massa air laut dalam skala destruktif.
Hingga kini tingkat aktivitas gunung api tersebut tetap bertahan di Level III Siaga sejak pertama kali ditetapkan pada 2 Juli 2026. Walaupun intensitas lontaran lava melonjak drastis, status kebencanaan belum mengalami kenaikan.
Alat Pemantau Rusak dan Imbauan Radius Aman
Catatan pos pengamatan menunjukkan gunung tersebut telah meletus lebih dari 240 kali sejak menyandang status Level III Siaga. Material lontaran batuan dan abu dari kawah bahkan menyebabkan gangguan teknis pada sistem monitoring lapangan.
Sejumlah perangkat pemantau, termasuk kamera CCTV yang berada di dekat kawah, mengalami kerusakan akibat hantaman material erupsi. Kondisi ini membuat pemantauan visual secara langsung menjadi terbatas.
Petugas pengamat gunung api Muhammad Dika Nurzaman meminta masyarakat sekitar untuk tetap tenang dan mengabaikan kabar simpang siur. "Kami mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, tidak panik, dan tetap menjauh dari Gunung Anak Krakatau dalam radius tiga kilometer," kata petugas pengamat Gunung Anak Krakatau, Muhammad Dika Nurzaman.
Masyarakat diminta tidak panik serta wajib menjauh dari radius 3 kilometer dari pusat kawah aktif guna menghindari ancaman bahaya lontaran batu pijar.
Dampak Abu Vulkanik dan Angin Kencang di Pesisir
Dampak erupsi mulai dirasakan langsung oleh pemukiman warga di pesisir Banten. Sebaran abu vulkanik tipis dilaporkan turun menyelimuti permukiman dan sempat memicu keluhan mata perih dari warga setempat.
BPBD Pandeglang melaporkan suara dentuman erupsi terdengar nyata hingga ke wilayah Kecamatan Sumur. Pada saat bersamaan, para nelayan di kawasan tersebut memilih menyandarkan perahu dan tidak melaut akibat terpaan angin kencang.