BANDARLAMPUNG — Digitalisasi kini merambah hingga ke warung kelontong di depan Gacoan Teluk, Bandar Lampung. Para pemilik warung mulai memasang kode QRIS untuk memudahkan pelanggan bertransaksi tanpa uang fisik.
Pelanggan cukup memindai kode QR menggunakan aplikasi pembayaran yang tersedia di ponsel masing-masing. Proses transaksi pun berlangsung lebih cepat dan praktis, terutama bagi mereka yang tidak membawa uang tunai saat berbelanja.
Alasan Pemilik Warung Beralih ke Pembayaran Digital
Bagi pemilik usaha, penggunaan QRIS bukan sekadar mengikuti tren. Sistem ini membantu pencatatan penerimaan dari setiap transaksi secara otomatis, sehingga lebih rapi dibandingkan mengelola uang tunai secara manual.
Seorang pelanggan warung, Alek, mengaku lebih suka membayar dengan metode ini. Menurutnya, memegang uang tunai justru membuat pengeluarannya lebih boros.
"Lebih praktis sih, karena kita tuh kayak kalo megang uang menurut saya boros ya, jadi kalau pakai qris kan di HP tuh tinggal scan-scan sret selesai," kata Alek.
Digitalisasi Tak Lagi Milik Usaha Besar
Pemanfaatan QRIS di warung kelontong menunjukkan bahwa transformasi digital tidak hanya terjadi pada usaha berskala besar. Usaha kecil seperti warung kelontong mulai menjangkau sistem pembayaran modern untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi.
Kehadiran pembayaran digital ini memberikan pilihan transaksi yang lebih fleksibel bagi pelanggan. Di sisi lain, pemilik warung juga terbantu dalam mengelola keuangan usaha mereka sehari-hari.
Langkah ini menjadi bagian dari ekosistem pembayaran digital yang terus tumbuh di Lampung. Bank Indonesia mencatat jumlah merchant QRIS di provinsi ini telah mencapai 889 ribu hingga April 2026, dan total transaksi pada Juni 2025 saja sudah menembus 6,8 juta transaksi.
Dengan semakin banyaknya warung kelontong yang mengadopsi QRIS, diharapkan pelayanan kepada pelanggan menjadi lebih praktis sekaligus mendorong perluasan transaksi non-tunai di tingkat akar rumput.