Pencarian

Volvo EX90 dan ES90 Murni Listrik di GIIAS 2026: Komitmen Elektrifikasi di Tengah Perayaan 99 Tahun

Senin, 03 Agustus 2026 • 10:36:01 WIB
Volvo EX90 dan ES90 Murni Listrik di GIIAS 2026: Komitmen Elektrifikasi di Tengah Perayaan 99 Tahun
Volvo EX90 dan ES90 dipamerkan di GIIAS 2026, menandai komitmen elektrifikasi penuh Volvo di Indonesia.

LAMPUNG — Perayaan 99 tahun Volvo di Indonesia tidak hanya menjadi seremoni ulang tahun, tetapi juga ajang pamer teknologi. Dalam gelaran GAIKINDO Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026, Volvo memanfaatkan momen ini untuk menunjukkan arah masa depan mereka: elektrifikasi penuh di semua lini. Bukan cuma satu model, mereka membawa tiga jenis teknologi sekaligus—Battery Electric Vehicle (BEV), Plug-in Hybrid (PHEV), dan Mild Hybrid (MHEV)—untuk menjaring konsumen dengan kebutuhan berbeda.

Strategi Ganda: Listrik Murni dan Hybrid Berjalan Beriringan

Volvo tidak serta-merta memutus semua mesin pembakaran. Di GIIAS 2026, mereka merawat pasar konservatif dengan menghadirkan XC60 dan XC90 versi PHEV dan MHEV. Di sisi lain, lini BEV diisi oleh dua model terbaru: EX90 dan ES90. Strategi ini cerdas—memberi pilihan bagi pembeli yang belum siap full listrik, sambil tetap membangun citra sebagai merek yang serius menekuni baterai.

Namun, yang paling menarik perhatian di booth Volvo tahun ini jelas EX90. SUV listrik berukuran besar ini bukan sekadar kendaraan ramah lingkungan, melainkan pernyataan teknologi. Mobil ini mengusung arsitektur elektrifikasi terbaru Volvo yang belum dipakai model lain di lini produk Indonesia.

EX90: Lebih dari Sekadar SUV Listrik, Ini Pusat Komando Keselamatan

Klaim utama Volvo untuk EX90 bukanlah jarak tempuh atau akselerasi, melainkan perangkat keselamatan aktifnya. Sistem LiDAR yang tertanam di atap menjadi pembeda utama dari kompetitor sekelas. Teknologi ini memindai lingkungan sekitar dalam tiga dimensi secara real-time, mendeteksi objek kecil di kejauhan—bahkan pejalan kaki di malam hari—jauh sebelum mata manusia melihatnya.

Kabinnya juga mengusung pendekatan minimalis khas Skandinavia. Semua kontrol fisik diminimalisir, digantikan layar sentral besar dengan sistem Google built-in. Artinya, navigasi dan asisten suara terintegrasi langsung tanpa perlu menghubungkan ponsel. Untuk pasar Indonesia, ini berarti kemudahan akses aplikasi yang familiar, meski adaptasi pengguna baru akan memakan waktu karena semua pengaturan kendaraan berada di layar.

Komunitas Kecil, Loyalitas Tinggi: Data 500 Anggota

Di tengah hiruk-pikuk peluncuran produk, ada satu angka yang cukup menonjol dari pernyataan CEO Volvo Car Indonesia, Koji Horii: komunitas pemilik Volvo di Indonesia kini bertumbuh hingga lebih dari 500 anggota. Jumlah ini kecil jika dibandingkan merek Jepang atau Korea, tetapi mencerminkan pasar premium yang memang niche.

"Perayaan 99 tahun Volvo bukan hanya tentang perjalanan yang telah kami lalui, tetapi juga tentang kepercayaan yang terus kami bangun bersama pelanggan. Yang paling membanggakan bagi kami adalah melihat komunitas Volvo di Indonesia terus bertumbuh hingga lebih dari 500 anggota," ujar Koji Horii di sela acara.

Angka ini penting karena menunjukkan bahwa pembeli Volvo di Indonesia cenderung membeli karena nilai keselamatan dan identitas, bukan sekadar gengsi. Mereka bersedia menunggu dan membayar lebih untuk teknologi yang tidak dimiliki merek lain.

Yang Perlu Diperhatikan Calon Pemilik EX90

Sebelum memutuskan memesan, ada beberapa catatan yang perlu dipertimbangkan. Pertama, infrastruktur pengisian daya di Indonesia masih belum merata. Meski Volvo menyediakan home charging, perjalanan antar kota menggunakan EX90 membutuhkan perencanaan matang soal lokasi SPKLU. Kedua, harga komponen pengganti—terutama sensor LiDAR dan unit kamera—dipastikan tidak murah jika terjadi kerusakan di luar garansi.

Ketiga, meski sistem Google built-in terdengar canggih, ketergantungan pada konektivitas internet bisa menjadi masalah di area dengan sinyal lemah. Beberapa fitur navigasi real-time akan terasa lambat atau tidak akurat di luar Pulau Jawa. Ini bukan kelemahan fatal, tapi pertimbangan realistis untuk pemakaian harian di Indonesia.

Terakhir, nilai jual kembali mobil listrik premium di Indonesia masih menjadi tanda tanya besar. Pasar mobil bekas untuk EV belum terbentuk kuat, dan depresiasi EX90 dalam lima tahun ke depan masih sulit diprediksi. Jika kamu tipe pembeli yang sering ganti mobil, skema sewa atau leasing mungkin lebih masuk akal daripada membeli tunai.

Verdict: Untuk Siapa EX90 dan Jajaran Volvo 2026?

Jajaran Volvo di GIIAS 2026 jelas bukan untuk semua orang. EX90 dan ES90 menyasar pembeli yang sudah yakin dengan elektrifikasi penuh, memiliki rumah dengan fasilitas charging, dan tidak terlalu memikirkan nilai jual kembali. Mereka yang masih ragu bisa jatuh ke XC60 atau XC90 PHEV—tetap hemat bahan bakar untuk pemakaian kota, tanpa cemas kehabisan baterai di perjalanan jauh.

Yang pasti, Volvo tidak sedang bermain aman. Mereka menawarkan teknologi keselamatan yang secara objektif berada di atas rata-rata kelasnya. Jika keselamatan adalah prioritas nomor satu dan budget bukan masalah, EX90 layak masuk daftar pendek—asalkan kamu siap dengan konsekuensi ekosistem EV di Indonesia yang masih berkembang.

Follow poroslampung.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: otomotif.sindonews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks