Pencarian

Pemerintah Diminta Tak Ulangi Kesalahan Top-Down di Rencana Peluncuran Motor Listrik Nasional

Selasa, 21 Juli 2026 • 09:56:01 WIB
Pemerintah Diminta Tak Ulangi Kesalahan Top-Down di Rencana Peluncuran Motor Listrik Nasional
Presiden Prabowo Subianto mengumumkan rencana peluncuran sepeda motor listrik nasional dalam waktu dekat di Malang, Jawa Timur.

LAMPUNG — Presiden Prabowo Subianto mengumumkan rencana peluncuran sepeda motor listrik nasional saat menghadiri acara Panen Raya Bersama TNI di Lanud Abdul Rachman Saleh, Malang, Jawa Timur, Jumat (17/7/2026). "Saya akan launching beberapa minggu ini, motor listrik nasional," ujar Prabowo di hadapan para petani. Ia juga menegaskan komitmen pemerintah untuk menghadirkan kendaraan roda dua dan roda empat buatan dalam negeri.

Namun, pernyataan tersebut langsung memicu pertanyaan mendasar di kalangan produsen: motor nasional mana yang dimaksud? Triharsa Adicahya, CEO Mimo Motor, menyoroti kejanggalan dalam wacana ini. Menurutnya, Indonesia sejatinya sudah memiliki merek motor listrik nasional, yakni Gesits, yang kini sebagian sahamnya dikuasai Indonesia Battery Corporation (IBC), anak usaha Danantara.

Gesits Sudah Ada, Kenapa Harus Bikin Merek Baru?

"Kalau ternyata yang dimaksud bukan Gesits, maka ini menjadi pertanyaan tersendiri karena pemerintah sebenarnya sudah memiliki aset yang bisa dikembangkan. Jangan sampai utilisasinya menjadi tidak maksimal," kata Triharsa kepada Warta Ekonomi, Senin (20/7/2026).

Ia menilai ketidakjelasan arah kebijakan berpotensi membuat pengembangan industri kendaraan listrik berjalan tumpang tindih. Alih-alih menciptakan merek baru melalui penugasan langsung, pemerintah semestinya memaksimalkan potensi Gesits yang infrastruktur dan basis produksinya sudah terbangun.

Bahaya Pendekatan Top-Down yang Terburu-buru

Triharsa memperingatkan agar pembangunan motor nasional tidak hanya mengandalkan instruksi dari atas. Pengalaman di Indonesia dan negara lain menunjukkan, proyek yang lahir dari pendekatan top-down kerap kesulitan bertahan jangka panjang. Penyebabnya, proyek semacam itu tidak dibangun di atas fondasi kapabilitas industri, pemahaman pasar, dan penguasaan teknologi yang matang.

Akibatnya, pihak yang menjalankan proyek sering memilih jalan pintas agar target cepat tercapai. Hasilnya justru melenceng dari tujuan awal membangun industri yang berkelanjutan. "Model top-down berisiko menghasilkan perusahaan yang sulit bertahan," tegasnya.

Alternatif: Perkuat Industri Lokal yang Punya IP Sendiri

Sebagai solusi, Triharsa mendorong pemerintah untuk lebih fokus memperkuat perusahaan lokal yang sejak awal mengembangkan kendaraan dengan basis kekayaan intelektual (intellectual property/IP) sendiri. Dukungan bisa diberikan lewat insentif fiskal, kemudahan akses pasar, hingga kebijakan yang mendorong penggunaan produk dalam negeri.

Dengan pendekatan ini, industri lokal akan berkembang secara alami. Kemampuan riset dan rancang bangun meningkat, rantai pasok komponen dalam negeri ikut terbentuk. "Meski membutuhkan waktu lebih panjang, strategi ini akan menghasilkan industri yang lebih kuat, berkelanjutan, dan memberikan dampak ekonomi yang lebih luas," ujar Triharsa.

Pernyataan Prabowo memang membuka babak baru dalam pengembangan kendaraan nasional. Namun, seperti diingatkan pelaku industri, keberhasilan motor listrik nasional tidak ditentukan oleh seremoni peluncuran sebuah merek. Yang jauh lebih krusial adalah strategi membangun ekosistem industri yang mampu bertahan dan bersaing dalam jangka panjang.

Bagikan
Sumber: wartaekonomi.co.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks