Citra Satelit dan AI Bisa Deteksi Tanda Gletser Nepal Runtuh Sebelum Bencana

Penulis: Rizal Fikri  •  Rabu, 02 September 2026 | 22:19:31 WIB
Citra satelit mengungkap perubahan permukaan dan pergerakan air di gletser Nepal sebelum longsoran es dan batuan terjadi.

LAMPUNG — Longsoran es dan batuan yang memicu banjir bandang dahsyat di perbatasan Nepal-Tibet tidak terjadi tanpa jejak. Analisis cepat dari HiRISK, kelompok ilmuwan internasional yang mengkaji bencana tersebut, mengungkap adanya indikasi yang terekam di citra satelit sebelum kejadian. Dari luar angkasa, gletser yang tampak tenang ternyata menunjukkan perubahan yang bisa diukur.

Tanda yang Terbaca dari Luar Angkasa

Salah satu indikasi paling jelas adalah perubahan permukaan gletser. Pengamatan juga menangkap pergerakan air di dalam gletser yang semakin cepat sebelum keruntuhan, menandakan pergeseran struktur es dan ketidakstabilan batuan di sekitarnya.

Pada 24 Agustus, citra satelit memperlihatkan air lelehan di kawasan tersebut berubah menjadi kecokelatan. Para peneliti juga menemukan retakan yang merambat ke lereng batuan sekitar gletser beberapa hari sebelum longsoran. Artinya, perubahan besar sudah mulai terjadi jauh sebelum material jatuh.

Kenapa Pemantauan Langsung Hampir Mustahil

Wilayah Himalaya membentang luas dengan medan yang ekstrem. Ribuan gletser tersebar di pegunungan yang sulit dijangkau manusia, sehingga memasang alat pemantau di setiap titik bukanlah pilihan realistis. Di sinilah peran satelit menjadi krusial: ia memungkinkan pemantauan perubahan permukaan, pergerakan air, hingga perubahan lanskap tanpa kehadiran fisik di lokasi.

AI untuk Skala Besar

Jakob Steiner, geolog sekaligus penulis laporan HiRISK, menilai pemantauan berbasis satelit dengan bantuan AI bisa mengatasi keterbatasan tersebut. “Di sinilah saya pikir kita perlu berinvestasi lebih banyak. Ada ribuan dan ribuan gletser di High Mountain Asia, jadi kita harus menemukan solusi yang dapat diterapkan dalam skala besar,” kata Steiner seperti dikutip dari ABC. Laporan HiRISK juga menemukan bahwa sistem peringatan dini khusus bahaya gletser belum tersedia di wilayah yang terdampak.

Waktu Peringatan yang Terbatas

Untuk lokasi yang sangat dekat dengan sumber longsoran, waktu yang tersedia untuk memberi peringatan hanya beberapa menit. Semakin jauh dari sumber, waktu itu bisa mencapai 10 menit atau lebih. Meski singkat, sistem peringatan yang dirancang dengan baik masih berpotensi menyelamatkan banyak orang.

Keruntuhan es dan batuan di pegunungan bisa mengirim material dalam jumlah sangat besar ke lembah. Material itu berpotensi membendung aliran sungai sementara, lalu melepaskan air secara tiba-tiba. Banjir bandang yang terjadi di Nepal menghancurkan jalan, jembatan, permukiman, dan sejumlah proyek pembangkit listrik tenaga air, serta menjebak ratusan pekerja konstruksi.

Perubahan Iklim Memperberat Situasi

Para ilmuwan menilai kondisi Himalaya semakin kompleks karena pemanasan membuat gletser menyusut dan permafrost mencair. Permafrost adalah tanah atau batuan yang selama bertahun-tahun membeku; es di dalamnya berfungsi seperti perekat yang menjaga kestabilan lereng. Ketika es mencair, batuan dan material di lereng menjadi lebih mudah bergerak.

Gletser yang mencair, lereng yang tidak stabil, longsoran batu-es, dan danau glasial bisa saling memicu dalam satu rangkaian bencana. Steiner mengingatkan bahwa kejadian serupa di lokasi yang sama pernah terjadi sebelumnya, termasuk longsoran batu-es pada 2024 dan peristiwa longsoran es pada 2015. Menurutnya, peristiwa itu sudah seharusnya menjadi peringatan untuk persiapan yang lebih baik.

Teknologi saat ini belum mampu secara tepat memprediksi kapan sebuah gletser akan runtuh. Namun, citra satelit membuktikan bahwa alam kerap memberikan tanda sebelum bencana. Tugas berikutnya adalah menerjemahkan tanda-tanda itu menjadi peringatan yang cukup cepat untuk menyelamatkan manusia. Di kawasan seperti Himalaya, kombinasi pemantauan satelit dan AI bukan sekadar alat untuk melihat bencana setelah terjadi, melainkan potensi sistem deteksi dini yang bisa bekerja sebelum korban berjatuhan.

Reporter: Rizal Fikri
Sumber: inet.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top