TANGGAMUS — Jembatan kayu lapuk yang menjadi satu-satunya penghubung antar dusun di Pekon Kampung Baru, Kecamatan Kotaagung Timur, masih dipaksa melayani mobilitas warga setiap hari. Struktur yang rapuh itu digunakan untuk mengangkut hasil panen, kebutuhan pokok, hingga aktivitas harian warga Way Kandis dan Sindang Sari.
Kondisi ini berlangsung hampir setengah abad. Utis, warga setempat, menuturkan jalan tersebut dibuka secara swadaya sejak 46 tahun lalu, namun tidak pernah tersentuh perbaikan serius dari pemerintah daerah.
"Sudah 46 tahun jalan ini dibuka secara swadaya. Tapi sampai hari ini tidak pernah benar-benar disentuh pembangunan," ungkapnya.
Kontrasnya dengan wilayah lain di Tanggamus yang terus menikmati pembangunan infrastruktur, dua dusun ini justru berada dalam keterisolasian. Padahal, kompleks perkantoran Pemkab Tanggamus hanya berjarak sekitar satu kilometer dari lokasi.
Dua jalur utama menuju kawasan tersebut terbilang ekstrem. Jalur pertama melewati area tower BTS dari kompleks perkantoran Pemkab Tanggamus dengan kontur terjal dan bagian jalan yang oleh warga disebut "ngerel" — jalur yang tak pernah tersentuh perbaikan. Jalur kedua dari Jalan Lintas Barat melalui Dusun Umbul Baru, Pekon Tanjung Jati, kondisinya tak kalah buruk dengan tanah licin yang rawan kecelakaan.
Kendaraan roda empat hampir mustahil masuk. Warga hanya mengandalkan motor trail atau kendaraan khusus medan berat. Saat hujan, jalur berubah menjadi kubangan lumpur yang menelan ban.
Mayoritas warga menggantungkan hidup pada sektor pertanian: kopi, pisang, pala, sayuran, dan buah-buahan. Namun, akses jalan yang buruk membuat biaya distribusi membengkak dan nilai ekonomi hasil panen anjlok.
"Kalau jalan ini bagus, hidup kami berubah. Tapi sekarang hasil kebun kami seperti tidak ada harganya karena sulit dibawa keluar," ujar Sohari (71), tokoh masyarakat setempat.
Kawasan ini mulai terbentuk sebagai permukiman pada 21 Maret 1997. Hampir tiga dekade berlalu, perkembangan infrastruktur dasar nyaris tidak bergerak.
Listrik baru mengalir di wilayah ini sekitar tahun 2015. Sebelumnya, warga hidup tanpa penerangan dan hanya mengandalkan gotong royong untuk menghadirkan jaringan dasar.
Tidak ada fasilitas kesehatan di wilayah ini. Warga harus menempuh 7 hingga 10 kilometer menuju puskesmas di Gisting atau Pasar Simpang, Kotaagung Timur, dengan medan jalan rusak ekstrem.
Di sektor pendidikan, hanya terdapat satu madrasah ibtidaiyah filial, MI Nurul Hidayah, yang masih bergantung pada sekolah induk di wilayah lain. Keterbatasan akses ini berpotensi menghambat keberlanjutan pendidikan anak-anak di dua dusun tersebut.
Lani (49), warga Way Kandis, menyampaikan kekecewaan yang sudah lama terpendam. Ia juga menyoroti minimnya kunjungan langsung pejabat ke wilayah tersebut.
"Kami ini seperti tidak benar-benar merdeka. Setiap tahun hanya melihat perayaan, tapi kehidupan kami tetap sama," tuturnya.
Hingga berita ini ditulis, belum ada tanggapan resmi dari Pemerintah Kabupaten Tanggamus terkait kondisi infrastruktur di Way Kandis dan Sindang Sari. Warga berharap ada perhatian nyata dari pemerintah daerah untuk membuka keterisolasian yang sudah berlangsung puluhan tahun.