Review Redmi 17 5G dan 4G: Baterai 7.500 mAh Jadi Jagoan, Tapi Layar dan Chipset Bikin Garuk Kepala

Penulis: Qodri Anwar  •  Rabu, 12 Agustus 2026 | 10:00:01 WIB
Redmi 17 5G dan 4G resmi diperkenalkan untuk pasar global dengan baterai 7.500 mAh sebagai daya tarik utama.

LAMPUNG — Xiaomi resmi melepas Redmi 17 5G dan Redmi 17 4G ke pasar global pada Senin (10/8/2026), dengan Malaysia sebagai pasar pertama. Yang menarik, versi global ini bukan salin tempel dari saudaranya di China—desain dan dapur pacunya dirombak total. Untuk Indonesia, kehadiran keduanya jadi sinyal kuat bahwa Xiaomi masih serius menggarap segmen entry-level dengan strategi "baterai gede, spek secukupnya".

Desain Beda dari China: Modul Persegi dan Layar Punch-Hole

Xiaomi memutuskan tampil beda untuk pasar global. Redmi 17 5G versi internasional memakai modul kamera persegi dan layar berlubang (punch-hole), sementara versi China datang dengan modul ala kapsul dan layar berponi. Redmi 17 4G mengadopsi bahasa desain yang sama dengan kakaknya, jadi keduanya terlihat sekeluarga saat ditaruh bersebelahan.

Bodinya tidak bisa dibilang ramping: ketebalan 8,8 mm dan bobot 232 gram. Angka ini jelas terasa di tangan, konsekuensi logis dari baterai jumbo 7.500 mAh. Sertifikasi IP64 artinya tahan percikan air dan debu, cukup untuk hujan gerimis—tapi jangan coba-coba merendamnya. Pemindai sidik jari menyatu dengan tombol power di sisi bodi, posisi paling ergonomis untuk jempol atau telunjuk.

Layar HD+ 120 Hz: Halus Tapi Kurang Tajam

Panel IPS LCD 6,9 inci dengan resolusi 720 x 1.600 piksel adalah titik terlemah dari duo Redmi 17 ini. Di atas kertas, refresh rate 120 Hz dan touch sampling 240 Hz menjanjikan scrolling mulus—dan benar saja, animasi terasa licin. Tapi kepadatan piksel yang rendah bikin teks dan ikon terlihat kurang tajam, terutama jika kamu sudah terbiasa dengan layar Full HD+.

Kecerahan puncak 825 nits cukup untuk penggunaan di luar ruangan, dan Gorilla Glass 7i memberikan lapisan proteksi mumpuni. Sertifikasi TÜV Rheinland untuk low blue light dan flicker free juga hadir, kabar baik buat kamu yang sering begadang sambil scrolling. Cakupan warna 83 persen NTSC masih standar kelas menengah bawah—warna tidak akan tampak "meledak" seperti di panel AMOLED.

Performa: 5G Dapat Snapdragon, 4G Masih eMMC

Pembeda utama kedua ponsel ini ada di sektor dapur pacu. Redmi 17 5G ditenagai Snapdragon 4 Gen 5 (4 nm) dengan kecepatan hingga 2,4 GHz, sementara versi 4G memakai MediaTek Helio G91-Ultra (12 nm) yang lebih lawas. Snapdragon jelas unggul dalam efisiensi daya dan performa GPU, tapi keduanya tetap berada di kelas entry-level—jangan berharap bisa main game berat dengan setting tinggi.

Masalah yang lebih krusial ada di varian 4G: penyimpanannya masih eMMC 5.1, bukan UFS. Ini berarti instalasi aplikasi dan loading game akan terasa lebih lambat. Varian 5G mendapat UFS 2.2 yang masih standar untuk kelas ini. Keduanya sama-sama dibekali RAM LPDDR4X 4 GB—angka yang mulai terasa sempit di 2026, apalagi jika kamu tipe orang yang suka membuka banyak aplikasi sekaligus.

Baterai 7.500 mAh: Daya Tahan Dua Hari, Tapi Charging-nya Kurang Nendang

Kapasitas 7.500 mAh adalah bintang utama dari seri ini. Dengan chipset 4 nm di varian 5G, pemakaian normal bisa tembus dua hari penuh. Redmi 17 4G dengan chipset 12 nm yang lebih boros tetap akan awet, tapi tidak seimpresif kakaknya. Ini ponsel yang jelas ditujukan untuk orang yang benci bawa power bank.

Fast charging 45 watt terasa kurang agresif untuk baterai sebesar ini. Mengisi dari kosong ke penuh akan memakan waktu lebih dari satu jam, dan itu bukan angka yang impresif di kelasnya. Fitur reverse wired charging 22,5 watt jadi nilai tambah—bisa dipakai untuk mengisi earbuds atau ponsel lain saat darurat, asal bawa kabel.

Kamera dan Fitur Lain: Fungsional, Bukan Fokus Utama

Konfigurasi kameranya sederhana: kamera utama 50 MP f/1.8 di belakang dan 8 MP f/2.05 di depan. Hasil foto di kondisi cahaya cukup akan terlihat baik untuk media sosial, tapi jangan berharap banyak di malam hari. Perekaman video mentok di 1080p 30 fps—standar untuk kelas entry, tidak lebih.

Keduanya menjalankan HyperOS 3 berbasis Android 16. Konektivitasnya lengkap: Wi-Fi dual-band, Bluetooth, NFC, dan GPS multi-band. Colokan audio 3,5 mm masih dipertahankan, fitur yang makin langka dan pasti disambut baik oleh pengguna wired earphone.

Harga dan Ketersediaan: Tunggu Konfirmasi untuk Indonesia

Malaysia menjadi pasar pertama yang menerima Redmi 17 4G dan 5G. Varian 4G tersedia dalam empat pilihan warna (Black, Deep Blue, Lotus Purple, Oak Green), sementara 5G hanya tiga (Black, Deep Blue, Vivid Orange). Harga resmi untuk Indonesia belum diumumkan, dan ini yang perlu dicermati—kalau selisihnya dengan kompetitor terlalu tipis, ponsel ini bisa kehilangan daya tarik.

Kelebihan dan Kekurangan

  • Kelebihan: Baterai 7.500 mAh dengan daya tahan luar biasa, refresh rate 120 Hz, NFC dan jack audio 3,5 mm, sertifikasi IP64, reverse charging 22,5 watt.
  • Kekurangan: Layar HD+ kurang tajam di ukuran 6,9 inci, RAM 4 GB terasa sempit, storage eMMC di varian 4G lambat, charging 45 watt kurang nendang untuk baterai sebesar ini, bobot 232 gram cukup berat.

Verdict: Siapa yang Cocok dan yang Sebaiknya Menepi

Redmi 17 5G dan 4G adalah ponsel dengan positioning yang sangat spesifik. Kalau prioritas utamamu adalah daya tahan baterai ekstrem, jarang main game berat, dan tidak terlalu peduli dengan ketajaman layar, seri ini layak masuk daftar tunggu. Ini juga pilihan masuk akal untuk pengguna sekunder atau hadiah untuk orang tua yang lebih butuh "tahan lama" daripada "canggih".

Tapi kalau kamu butuh ponsel untuk gaming, menonton video dengan nyaman, atau multitasking berat, sebaiknya cari di tempat lain. Layar HD+ dan RAM 4 GB adalah pembatas yang tidak bisa ditawar. Tunggu harga resmi Indonesia sebelum memutuskan—jika Xiaomi membanderolnya di bawah Rp 2 juta, kompromi ini jadi lebih bisa dimaafkan. Jika lebih, kompetitor dengan layar lebih tajam dan chipset lebih bertenaga akan jadi pilihan yang lebih rasional.

Reporter: Qodri Anwar
Sumber: tekno.kompas.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top