LAMPUNG — Latihan Han Kuang 2026 yang berlangsung 10 hari ini memang dibuat lebih realistis dari tahun-tahun sebelumnya. Selain simulasi pendaratan pasukan musuh di Kepulauan Penghu, pemerintah Taiwan kini menguji ketahanan infrastruktur komunikasi sipil. Throttling atau pembatasan kecepatan internet seluler dilakukan di Taiwan bagian tengah pada Senin sore, dan akan diulang di wilayah utara pada 13 Agustus 2026.
Meski internet HP diperlambat, tidak semua layanan ikut terdampak. Panggilan darurat ambulans, ATM, lampu lalu lintas, telepon rumah, dan koneksi fixed-line dipastikan tetap berjalan normal. Ini poin penting: simulasi ini bukan mematikan total akses komunikasi, melainkan membatasi bandwidth seluler agar warga terbiasa mencari jalur alternatif.
Yang menarik, skenario yang disiapkan tidak hanya bencana alam tapi juga potensi konflik militer. Artinya, Taiwan serius menguji bagaimana masyarakat bertahan ketika jaringan seluler menjadi titik lemah yang paling mungkin diserang atau terganggu lebih dulu.
Bersamaan dengan uji internet, militer Taiwan menggelar latihan dini hari di Kepulauan Penghu yang berada di Selat Taiwan. Tank M60A3, artileri, dan senjata antipesawat diterjunkan untuk mensimulasikan pertahanan berlapis menghadapi pasukan yang mencoba mendarat. Penghu dipilih karena posisinya strategis—terletak di antara China dan pulau utama Taiwan—sehingga dinilai berpotensi menjadi sasaran penting jika konflik benar-benar pecah.
Beberapa catatan layak disorot dari langkah Taiwan ini:
China selama ini menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya dan tidak pernah mengesampingkan penggunaan kekuatan untuk mengambil alih pulau tersebut. Pemerintah Taiwan menolak klaim Beijing dan menyatakan hanya masyarakat Taiwan yang berhak menentukan masa depannya. Latihan Han Kuang tahun ini mencerminkan kekhawatiran itu: menguji bukan cuma tentara, tapi juga ketahanan warga sipil dan infrastruktur publik saat komunikasi tidak bekerja seperti biasa.