Startup Robot Enigma Kantongi Rp1,17 Triliun, Target Bikin Antarmuka Seenak Setel Volume Mobil

Penulis: Surya Dinata  •  Selasa, 28 Juli 2026 | 07:43:17 WIB
Enigma, startup robotika asal Israel, mengumumkan pendanaan senilai 71 juta dolar AS untuk mengembangkan antarmuka interaksi manusia-robot yang lebih natural.

LAMPUNG — Jakarta – Enigma, laboratorium riset robotika yang baru berusia kurang dari setahun, resmi keluar dari mode siluman pada Senin (19/2). Startup ini mengantongi pendanaan seed senilai 71 juta dolar AS (sekitar Rp1,17 triliun). Putaran ini dipimpin oleh Index Ventures dan Ribbit Capital, dengan partisipasi dari Conviction Partners milik Sarah Guo.

Berbeda dengan pendekatan perusahaan robotika lain yang fokus pada pengembangan model AI dasar lewat simulasi komputer atau data video, Enigma memilih jalur berbeda. Mereka ingin mempelajari bagaimana manusia secara alami berinteraksi dengan robot, lalu memakai data itu untuk menciptakan antarmuka yang lebih natural.

Eksperimen Publik dengan Lebih dari 100 Robot

Untuk menguji hipotesis ini, Enigma meluncurkan eksperimen berskala besar. Siapa pun di dunia bisa mengakses dan berinteraksi secara daring dengan lebih dari 100 unit robot AI milik Enigma yang ditempatkan di hangar di Israel dan California.

Robot-robot ini bisa melakukan beragam tugas: menggambar dengan kuas, bertarung pedang, hingga melakukan eksperimen kimia sederhana seperti mencampur cairan dalam labu. Enigma mengklaim telah mengembangkan sendiri lengan robot dan model AI yang mendasarinya dari nol.

Otak di Balik Enigma: Eks-Intel Israel dan Juara Olimpiade Matematika

Enigma didirikan oleh Jonathan Jacobi dan Gal Niv. Jacobi adalah mantan karyawan termuda Microsoft yang direkrut langsung oleh Assaf Rappaport (kini pendiri Wiz). Keduanya bertemu saat remaja di kompetisi peretasan dan bertugas bersama di Unit 8200, unit intelijen elite Israel yang fokus pada riset keamanan siber.

Meski tanpa pengalaman langsung di bidang robotika, Jacobi dan Niv menganggap AI untuk robotika sebagai masalah paling menarik yang belum terpecahkan di dunia teknologi. Mereka kemudian mengumpulkan tim yang terdiri dari lulusan laboratorium AI top dunia, peraih medali Olimpiade Matematika, hingga beberapa orang yang rela drop-out dari program PhD.

Mengapa Antarmuka Robot Harus Seenak Kenop Volume?

Jonathan Jacobi, salah satu pendiri Enigma, mengatakan target utama perusahaannya adalah membuat interaksi manusia-robot menjadi benar-benar effortless. Ia memberi analogi sederhana: jika Anda harus menghabiskan 15 menit menjelaskan ke robot di mana harus meletakkan piring setelah mencuci piring, maka pada titik tertentu Anda akan menyerah dan melakukannya sendiri.

“Sekarang, semua orang ada di titik itu — bahkan dengan model AI yang paling canggih sekalipun,” ujar Jacobi dalam wawancara dengan TechCrunch.

Ia percaya bahwa memanipulasi robot pada akhirnya harus seinternal menyesuaikan volume di mobil. “Pengguna akan frustrasi jika, alih-alih memutar kenop, mereka harus mengatur volume dengan persentase tertentu tanpa tahu hasilnya akan terlalu keras atau terlalu pelan,” tambahnya.

Belajar dari Data, Bukan dari Teori

Eksperimen publik Enigma akan menguji berbagai cara berkomunikasi dengan robot: apakah melalui teks, suara, video contoh, atau dengan metode tap, drag, dan drop. “Kami akan belajar banyak tentang cara yang tepat untuk berinteraksi dengan robot,” kata Jacobi.

Shardul Shah, partner di Index Ventures, menilai pendekatan Enigma sebagai sesuatu yang orisinal. “Banyak pelaku industri robotika memulai dari kemampuan teleoperasi atau ketangkasan. Tapi Enigma memulai dari tempat yang sangat berbeda: 'Apa pengalaman terbaik bagi pengguna?'” ujarnya.

Meski demikian, model bisnis Enigma saat ini masih belum jelas. Jacobi enggan menyebutkan kasus penggunaan spesifik, namun mengakui bahwa startup-nya sudah bermitra dengan perusahaan di sektor kesehatan, logistik, dan hiburan.

Reporter: Surya Dinata
Sumber: techcrunch.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top