BANDARLAMPUNG — Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung terus memperkuat komitmen membangun industri berbasis agro untuk mendongkrak perekonomian daerah. Langkah ini diyakini mampu menciptakan nilai tambah signifikan dari sektor pertanian yang menjadi tulang punggung ekonomi provinsi tersebut.
Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela mengungkapkan, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Lampung saat ini mencapai Rp530 triliun. Dari angka tersebut, sektor agro atau pertanian menyumbang porsi terbesar, yaitu sekitar 24 persen.
"Sektor ini kemudian disusul oleh industri pengolahan dan sektor penunjang lainnya," ujar Jihan dalam sosialisasi hilirisasi berbasis agro serta peningkatan daya saing Industri Kecil dan Menengah (IKM) di Bandarlampung, Kamis.
Pemprov Lampung menempatkan hilirisasi sebagai strategi utama memperkuat sektor industri daerah. Program ini dinilai sangat relevan dengan karakteristik perekonomian Lampung yang bertumpu pada hasil bumi.
"Kami ingin Lampung maju, berdaya saing, dan berkelanjutan sesuai dengan visi Presiden Republik Indonesia," kata Jihan.
Dia menjelaskan, langkah akselerasi ini diyakini mampu meningkatkan nilai tambah komoditas lokal, memperluas kesempatan kerja, sekaligus memperkuat daya saing ekonomi daerah. Untuk mewujudkannya, Pemprov Lampung mengharapkan kolaborasi yang semakin intensif dengan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) RI.
Dalam kerangka penguatan industri berbasis agro, pemerintah daerah tengah fokus membangun ekosistem industri terintegrasi. Salah satu program unggulannya adalah "Desaku Maju" yang bertujuan menghidupkan kembali (revive) industri berbasis desa.
Program ini selaras dengan visi pembangunan daerah "Bersama Lampung Maju Menuju Indonesia Emas". Visi tersebut ditopang oleh tiga misi utama: mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan inovatif, membangun sumber daya manusia (SDM) yang unggul dan produktif, serta menghadirkan tata kelola pemerintahan yang berkeadilan dan berkelanjutan.
Provinsi Lampung memiliki berbagai komoditas unggulan yang mendominasi pasar nasional. Salah satunya adalah komoditas singkong (ubi kayu), di mana Lampung menempati posisi nomor satu di tingkat nasional dengan jumlah produksi mencapai 7,3 juta ton.
"Dalam kerangka agenda tersebut, sektor industri pengolahan bertindak sebagai penghubung (konkret) dengan sektor pertanian yang menjadi kekuatan utama Provinsi Lampung," kata Jihan menjelaskan.
Dengan potensi besar tersebut, Pemprov Lampung optimistis penguatan industri berbasis agro akan mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan, sejalan dengan target Indonesia Emas.