PRINGSEWU — Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pringsewu, Ali Subagiyo, menyebut tantangan terbesar dalam mengedukasi masyarakat adalah persepsi yang sudah mengakar selama bertahun-tahun. Kental manis, yang sejatinya adalah krimer, masih dianggap sebagai minuman bernutrisi untuk tumbuh kembang anak.
"Ekspektasi masyarakat saat memberikan itu agar anak mendapat gizi, padahal realitanya tidak demikian," kata Ali dalam keterangan yang diterima di Bandarlampung, Selasa.
Menurut Ali, selain persepsi yang keliru, harga yang murah dan kemudahan akses di warung-warung desa menjadi pemicu utama. Ia menyebut anak kecil yang belum lancar bicara pun bisa membeli sendiri kental manis ke warung asal membawa uang.
"Ini adu kesabaran. Produsen berkampanye produk, kami juga harus sabar terus mengampanyekan edukasi yang benar," ujarnya.
Merespons situasi di lapangan, Dinkes Pringsewu tidak hanya mengandalkan edukasi. Ali mengaku akan mengkomunikasikan usulan ini ke pimpinan daerah agar segmen anak-anak bisa lebih terlindungi melalui kebijakan yang mengikat.
"Terkait dukungan regulasi, ini masukan yang sangat positif. Nanti akan kami komunikasikan kepada pimpinan (Bupati)," tegas Ali.
Dalam program edukasi gizi yang digelar bersama Majelis Kesehatan Pimpinan Pusat (Makes PP) 'Aisyiyah dan Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI), para kader tidak hanya dibekali teori. Mereka juga melakukan kunjungan rumah untuk memantau pertumbuhan balita dan dilatih menulis konten di media sosial.
Ketua Pimpinan Wilayah (PW) 'Aisyiyah Lampung, Pristi Wahyu Diawati, mengatakan pendekatan kekeluargaan menjadi kunci agar masyarakat tidak merasa disalahkan.
"Dulu banyak yang menganggap kental manis itu susu pertumbuhan. Sekarang pemahamannya sudah mulai berubah, tetapi edukasi tetap harus dilakukan," kata Pristi.
Dinkes Pringsewu berharap kombinasi antara regulasi dan edukasi berkelanjutan mampu memutus rantai kebiasaan konsumsi kental manis pada anak yang telah berlangsung lama.