BANDARLAMPUNG — Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela menilai gerakan ayah mengantar anak ke sekolah pada hari pertama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tahun ajaran 2026/2027 menjadi langkah konkret menekan angka fatherless di daerah itu. Fenomena fatherless merujuk pada minimnya keterlibatan ayah dalam proses tumbuh kembang dan pendidikan anak.
"Pastinya dengan adanya gerakan ayah antar anak ini, akan mengurangi angka fatherless di Provinsi Lampung," kata Jihan di Bandarlampung, Senin.
Berdasarkan hasil pemantauannya, Jihan menyebut para ayah di Lampung sudah memiliki kesadaran untuk hadir dan berperan lebih dekat dengan anak di hari pertama sekolah. Ia meninjau langsung pelaksanaan MPLS di jenjang SD hingga SMP.
"Iya tadi juga saya melakukan peninjauan masa pengenalan lingkungan sekolah memang dari sekolah dasar sampai dengan sekolah menengah pertama rata-rata sudah ramai siswanya diantarkan oleh ayahnya," ujar dia.
Namun, Wagub mencatat antusiasme itu belum merata di jenjang SMA. "Hanya yang sekolah menengah atas saja yang banyak tidak diantar ayah lagi, tapi kita patut bersyukur antusiasme dari gerakan ayah mengantar anak sekolah luar biasa hari ini," jelasnya.
Jihan menilai kehadiran para ayah yang antusias menunjukkan sosialisasi gerakan ini sudah tersampaikan dengan baik kepada masyarakat Lampung. Ia berharap kebiasaan tersebut tidak berhenti di hari pertama sekolah.
"Dengan ini maka Provinsi Lampung khususnya sosialisasinya tersampaikan dengan baik, dan semoga ini bisa konsisten dilakukan oleh orang tua, khususnya ayah agar bisa juga hadir dalam proses pembelajaran anak-anak mereka tidak hanya ibu saja yang berperan," ucap dia.
Gerakan ayah antar anak ke sekolah merupakan bagian dari program nasional Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) yang digagas Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN. Tujuan utamanya mendorong keterlibatan aktif ayah dan calon ayah dalam mengasuh anak, mendampingi remaja, dan pra remaja.
Program ini diharapkan menciptakan lingkungan keluarga yang harmonis, sehat, dan seimbang menuju keluarga berkualitas. Dengan keterlibatan ayah sejak dini, pola asuh tidak lagi dibebankan sepenuhnya kepada ibu.