LAMPUNG — Departemen Perdagangan AS resmi menerbitkan aturan final yang melonggarkan pembatasan ekspor teknologi canggih ke UEA. Aturan yang akan dimuat di Federal Register pada 14 Juli ini memberikan akses istimewa bagi perusahaan AS yang berkantor pusat di Amerika Serikat dan memiliki anak usaha di UEA.
Apple tercatat sebagai salah satu dari delapan perusahaan yang tercakup dalam aturan baru ini. Bersama Amazon, Google, Meta, Microsoft, OpenAI, Oracle, dan xAI, Apple kini bisa mendatangkan chip komputasi canggih, server, serta perangkat lunak dan teknologi terkait ke fasilitas mereka di UEA tanpa perlu mengajukan izin ekspor satu per satu.
Aturan ini merujuk pada ketentuan License Exception STA (Strategic Trade Authorization) dalam Export Administration Regulations. Cakupannya meliputi barang yang diatur di bagian 742.6(a)(6)(iii)(A)-(B), termasuk chip AI mutakhir dan sistem yang mengandung komponen tersebut.
Meski Apple belum mengumumkan rencana spesifik, sumber Reuters menduga pemanfaatan paling jelas adalah untuk pembangunan atau perluasan data center. Dengan akses chip AI tanpa hambatan lisensi, Apple bisa memperkuat kapasitas komputasi awan dan pengembangan model AI di kawasan UEA.
Aturan ini juga mempermudah transfer teknologi dan perangkat lunak yang sebelumnya memerlukan persetujuan ketat dari pemerintah AS. Perusahaan penerima harus menjadi pengguna akhir yang disetujui (approved end users) agar kelonggaran ini berlaku.
Sejak 2022, AS memberlakukan pembatasan ketat ekspor chip AI dan peralatan fabrikasi semikonduktor ke sejumlah negara, termasuk China, karena kekhawatiran penggunaan militer. UEA sendiri sempat masuk dalam daftar negara yang diawasi ketat menyusul laporan potensi transfer teknologi ke pihak ketiga.
Pelonggaran ini menandai perubahan sikap Washington terhadap Abu Dhabi, yang belakangan gencar menarik investasi teknologi global. UEA telah menggelontorkan dana miliaran dolar untuk membangun ekosistem AI, termasuk melalui perusahaan G42 yang bermitra dengan Microsoft.
Keputusan ini tidak berdampak langsung ke konsumen Indonesia. Namun, pengembangan data center yang lebih masif di UEA bisa mempercepat ketersediaan layanan AI dari Apple dan perusahaan lain di kawasan Asia. Infrastruktur cloud yang lebih dekat secara geografis berpotensi menurunkan latensi dan meningkatkan keandalan layanan.
Bagi pengamat industri, langkah ini juga sinyal bahwa persaingan data center AI global semakin memanas. Negara-negara Teluk berlomba menjadi hub komputasi awan, dan Apple tampaknya tidak mau ketinggalan dalam permainan ini.