LAMPUNG TENGAH — Warga Lampung Tengah rata-rata mengeluarkan Rp 167.692 per kapita per bulan untuk membeli makanan dan minuman jadi sepanjang 2024. Angka ini turun tipis 1 persen dari tahun sebelumnya yang mencapai Rp 169.433 per kapita per bulan.
Sepanjang tujuh tahun terakhir, pengeluaran untuk kategori ini bergerak fluktuatif. Lonjakan tertinggi justru terjadi pada 2023, yakni melesat 34,4 persen. Satu-satunya penurunan besar sebelum 2024 terjadi pada 2021, yang anjlok 9,9 persen—menjadi anomali terbesar selama periode data tersedia.
Setelah terpuruk di 2021, nilai pengeluaran perlahan naik pada 2022 sebelum akhirnya meroket tinggi pada 2023. Pola ini menunjukkan bahwa konsumsi makanan dan minuman jadi di Lampung Tengah sangat dipengaruhi oleh faktor musiman atau kebijakan ekonomi tertentu.
Di level provinsi, Lampung Tengah menempati urutan keempat, tidak berubah dari posisi tahun sebelumnya. Tiga wilayah di atasnya adalah Kota Metro dengan pengeluaran Rp 258.636, Kota Bandar Lampung Rp 255.139, dan Kabupaten Pesisir Barat Rp 199.523 per kapita per bulan.
Secara nasional, Lampung Tengah berada di peringkat 310 dari seluruh kabupaten/kota di Indonesia. Posisi ini menunjukkan bahwa daya beli masyarakat terhadap makanan dan minuman jadi di wilayah tersebut masih berada di level menengah bawah secara nasional.
Pengeluaran untuk makanan dan minuman jadi menyumbang 13,4 persen dari total pengeluaran per kapita sebulan masyarakat Lampung Tengah yang pada 2024 tercatat Rp 1.245.812. Angka ini hampir setara dengan pengeluaran untuk rokok dan tembakau yang mencapai Rp 113.492 per kapita, dan masih di atas pos belanja perawatan serta kecantikan.
Total pengeluaran per kapita di Lampung Tengah pada 2024 mencapai Rp 1.754.233, naik 9,1 persen dibanding tahun sebelumnya. Artinya, meski belanja makanan dan minuman jadi sedikit menurun, konsumsi di kategori lain justru meningkat.
Berbeda dengan Lampung Tengah, Kabupaten Pesisir Barat mencatat pertumbuhan pengeluaran makanan dan minuman jadi tertinggi se-Provinsi Lampung pada 2024, yakni melonjak 46 persen. Total pengeluaran per kapita di wilayah itu mencapai Rp 1.575.666, naik 23,7 persen, dan berhasil naik satu peringkat ke urutan ketiga.
Sementara itu, Kota Metro mencatat kenaikan 17,5 persen untuk kategori yang sama, menjadi pertumbuhan tertinggi kedua setelah Pesisir Barat. Sebaliknya, Kota Bandar Lampung justru mengalami penurunan 9,9 persen pada kategori ini, menjadikannya satu-satunya wilayah kota yang mencatat penurunan.