13 Tahun Grafik Pendidikan Lampung Naik, Peringkat Justru Stagnan di Papan Bawah Nasional

Penulis: Teguh Prasetyo  •  Senin, 06 Juli 2026 | 15:25:32 WIB
Lampung menggelontorkan triliunan rupiah untuk pendidikan, namun peringkat nasional tetap stagnan di posisi 31.

BANDAR LAMPUNG — Selama lebih dari satu dekade, Lampung terus menggelontorkan triliunan rupiah untuk sektor pendidikan. Sekolah baru dibangun, ruang kelas direnovasi, dan program digitalisasi diperkenalkan. Namun, ketika hasilnya diukur dari indikator utama, posisi Lampung nyaris tidak bergerak dalam peta persaingan antardaerah.

Lampung Terjebak di Peringkat 31 Selama Delapan Tahun Berturut-turut

Data BPS mengungkap fakta pahit. Pada 2012, Harapan Lama Sekolah Lampung berada di peringkat ke-29 nasional. Empat tahun berselang, posisinya turun ke peringkat ke-30. Dan sejak 2018 hingga 2025, Lampung bertahan di peringkat ke-31 dari 38 provinsi. Artinya, selama delapan tahun, tidak ada satu pun perbaikan peringkat yang signifikan.

Rata-rata Lama Sekolah (RLS) juga menunjukkan pola serupa. Angkanya hanya bergerak di kisaran peringkat ke-27 hingga ke-28 sepanjang 2012—2025. Provinsi lain seperti Jambi, Bengkulu, atau Sulawesi Tenggara yang beberapa tahun lalu berada di posisi setara, kini mulai menjauh.

Selisih 4,18 Tahun: Kesenjangan Antara Harapan dan Realitas

Satu angka yang menjadi alarm adalah gap antara Harapan Lama Sekolah dan Rata-rata Lama Sekolah yang mencapai 4,18 tahun. Angka ini berarti meskipun seorang anak di Lampung secara statistik memiliki peluang menempuh pendidikan hingga hampir lulus SMA (12,79 tahun), kenyataan di lapangan menunjukkan rata-rata penduduk dewasa hanya bersekolah selama 8,61 tahun—setara kelas 9 SMP.

Kesenjangan ini menandakan tingginya angka putus sekolah atau rendahnya partisipasi pendidikan menengah atas di kalangan warga. Jika tidak segera diatasi, gap ini akan terus melebar dan menghambat produktivitas sumber daya manusia Lampung di masa depan.

Bukan Soal Anggaran, Tapi Efektivitas Kebijakan

Pemimpin Redaksi Harian Kandidat, Abung Mamasa, dalam analisisnya menekankan bahwa persoalan pendidikan Lampung bukan lagi pada ketersediaan dana. “Grafik terus naik, anggaran terus mengalir, program terus berganti. Namun selama belasan tahun, peringkat pendidikan Lampung nyaris tidak bergerak,” tulisnya.

Ia menambahkan, sudah saatnya pemerintah daerah berani mengakui bahwa masalahnya terletak pada efektivitas kebijakan. Program yang silih berganti tanpa evaluasi mendalam hanya akan menghasilkan aktivitas, bukan hasil. Lampung butuh terobosan yang mampu mempercepat laju peningkatan kualitas pendidikan, bukan sekadar menambah jumlah kegiatan.

Perlombaan Lari yang Tak Kunjung Mengejar Ketertinggalan

Ibarat perlombaan lari, Lampung terus berlari. Namun pelari lain bergerak lebih cepat. Akibatnya, jarak tidak pernah benar-benar mengecil. Selama 13 tahun, Harapan Lama Sekolah hanya bertambah sekitar sepuluh bulan, sementara Rata-rata Lama Sekolah meningkat 1,31 tahun. Dengan kecepatan ini, Lampung diprediksi akan terus berada di papan bawah jika tidak ada perubahan fundamental dalam strategi pembangunan pendidikan.

Data BPS 2025 menegaskan kondisi tersebut: HLS nasional 13,30 tahun versus Lampung 12,79 tahun; RLS nasional 9,07 tahun versus Lampung 8,61 tahun. Selisih yang terlihat kecil ini ternyata cukup untuk membuat Lampung tertinggal dari mayoritas provinsi lain di Indonesia.

Reporter: Teguh Prasetyo
Sumber: analisis.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top