BANDAR LAMPUNG — Bungkil sawit asal Lampung kian menjadi primadona di pasar internasional. Pekan ini, sebanyak 14 ribu ton Palm Kernel Expeller (PKE) dikirim ke Selandia Baru dengan nilai mencapai Rp20 miliar.
Kepala Balai Karantina Lampung, Donni Muksydayan, menyebut bahwa komoditas ini memenuhi standar ketat negara tujuan. “PKE diberangkatkan setelah memenuhi standar ketat negara tujuan. Ini bukti nyata bahwa komoditas asal Lampung memiliki daya saing yang digdaya di pasar global,” ujarnya.
Selandia Baru dikenal dengan industri susunya yang mendunia. Negara tersebut ternyata sangat bergantung pada bungkil sawit asal Lampung sebagai pakan ternak alternatif. Kandungan serat yang tinggi dalam PKE dinilai paling efisien untuk mendongkrak produktivitas sapi perah dan sapi potong di sana.
Donni mencatat adanya wajah-wajah baru di deretan eksportir Lampung pada pengapalan kali ini. Fenomena ini menjadi sinyal positif bahwa peluang di sektor perkebunan kian terbuka lebar.
“Kehadiran eksportir baru ini menunjukkan bahwa sistem sertifikasi dan pengawasan karantina kita mampu mendampingi pelaku usaha menembus pasar internasional secara berkelanjutan,” tambah Donni.
Sebelum kapal berangkat, pemeriksaan ketat dilakukan. Sertifikat Fitosanitari atau Phytosanitary Certificate menjadi paspor yang menjamin produk Indonesia bebas dari organisme pengganggu dan memenuhi standar kesehatan internasional. “Kami hadir sebagai fasilitator perdagangan yang aman. Tugas kami adalah memastikan akses pasar tetap terjaga melalui kepercayaan global terhadap produk kita,” jelas Donni.
Data Balai Karantina Lampung menunjukkan bahwa demam bungkil sawit bukan sekadar tren sesaat. Pada tahun 2024, tercatat 172 kali ekspor dengan total nilai Rp2,58 triliun. Angka ini meningkat pada 2025 dengan frekuensi 184 kali, volume 1,34 juta ton, dan nilai Rp3,12 triliun.
Memasuki tahun 2026, dalam periode Januari hingga Juni saja, sudah tercatat 66 kali ekspor dengan nilai mencapai Rp1,17 triliun. Kebutuhan dunia akan bahan baku pakan alternatif yang efisien terus tumbuh seiring geliat industri peternakan global.