LAMPUNG — Bagi Sumardji, label prestisius atau tidaknya sebuah turnamen tidak diukur dari masuk atau tidaknya dalam kalender FIFA. Ukuran sesungguhnya adalah sejarah panjang yang belum terpecahkan: sejak 1996, Indonesia selalu hadir di Piala AFF, enam kali menembus final, dan enam kali pula pulang dengan tangan hampa.
"Saya tidak sependapat. Kenapa? Karena sampai dengan saat ini, sejak kita merdeka sampai dengan sekarang, timnas kita belum bisa mendapatkan trofi juara," tegas Sumardji dalam acara Water Break yang digelar PSSI Pers di Jakarta Selatan, Jumat.
Kegagalan menembus putaran final Piala Dunia 2026 menjadi titik balik. Era baru bersama pelatih John Herdman disebut Sumardji sebagai momentum yang tepat. Hasil awal cukup menjanjikan: tiga kemenangan dari empat laga uji coba, dengan delapan gol lesakan dan hanya kebobolan satu gol—itu pun dari titik putih saat dikalahkan Bulgaria.
"Momentumnya tepat, kenapa tidak kita manfaatkan dan tidak kita buktikan bahwa kita mampu untuk bisa mendapatkan itu? Dan ini bagian daripada mengukir sejarah," ucap Sumardji.
Optimisme Ketua BTN juga bertumpu pada komposisi pemain yang akan diturunkan. Alih-alih memanggil pemain dari luar negeri, skuad Garuda untuk Piala AFF nanti akan diisi pemain-pemain berkualitas yang merumput di Liga 1 Indonesia.
"Yang kedua, didukung oleh pemain yang boleh dikatakan yang berada di liga super kita atau di liga kita, itu banyak pemain diaspora yang saat sekarang ini berada di sini," tambah dia.
Pada ASEAN Hyundai Cup 2026, Indonesia tergabung di Grup A bersama Vietnam, Kamboja, Singapura, dan Timor Leste. Dua laga kandang akan digelar di Stadion Pakansari, Bogor: melawan Kamboja pada 27 Juli dan menjamu Vietnam pada 3 Agustus. Jika lolos ke semifinal, markas timnas akan pindah ke Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta.