LAMPUNG TIMUR — Selama ini, petani dan pelaku UMKM di Lampung Timur lebih banyak menjual singkong dalam bentuk bahan baku mentah. Akibatnya, nilai tambah yang diperoleh masyarakat dari komoditas unggulan daerah itu masih rendah. Tim dosen Politeknik Negeri Lampung (Polinela) mencoba mengubah pola tersebut melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang berfokus pada inovasi produk olahan.
Ketua Tim PkM, Ir. Febrina Delvitasari, S.T.P., M.Si., mengatakan Lampung Timur memiliki potensi besar sebagai daerah penghasil singkong. Namun, rantai nilai yang pendek—dari kebun langsung dijual sebagai bahan mentah—membuat keuntungan petani dan pengusaha lokal minim.
"Melalui kegiatan ini kami ingin mendorong hilirisasi singkong menjadi produk olahan berupa brownies berbasis tepung singkong yang difortifikasi kopi. Harapannya, pelaku UMKM tidak hanya menjual bahan mentah, tetapi mampu menghasilkan produk dengan nilai ekonomi yang lebih tinggi," ujar Febrina, Jumat (26/6/2026).
Kegiatan PkM ini tidak berhenti pada demonstrasi pembuatan brownies. Peserta yang berasal dari Perkumpulan Mocaf Lampung Timur dan Koperasi Wanita Semoga Sehat Lampung Timur mendapatkan pelatihan komprehensif. Mulai dari pengolahan tepung singkong menjadi mocaf, formulasi adonan brownies, teknik produksi yang higienis, hingga pengemasan produk yang sesuai standar pasar.
Tim dosen yang terlibat terdiri dari Ir. Maryanti, S.T.P., M.Si., Putri Mariska Fahmi, M.P., Ir. Anggia Fanesa, S.P., M.Tr.P., M.Si., Prastya Atma Negara, S.E., M.M., dan Bigi Undadraja, S.T.P., M.Si. Mereka juga membekali peserta dengan pengetahuan pemasaran digital agar produk bisa menjangkau pasar yang lebih luas.
Pemilihan kopi sebagai bahan fortifikasi bukan tanpa alasan. Lampung dikenal sebagai salah satu sentra produksi kopi robusta nasional. Dengan menggabungkan dua komoditas unggulan—singkong dan kopi—dalam satu produk, inovasi brownies ini diharapkan memiliki daya saing lebih kuat di pasar oleh-oleh maupun kafe.
Ketua UMKM Mocaf Lampung Timur, Andri Astuti, bersama Firdaus Pratama dan Budiyul Hartono turut hadir dalam kegiatan tersebut. Budiyul sendiri dikenal sebagai penggerak pengembangan tepung mocaf di Provinsi Lampung. Kehadiran mereka diharapkan bisa menjadi jembatan antara hasil pelatihan dengan akses pasar yang lebih nyata.
Program PkM ini menjadi salah satu wujud implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi yang dijalankan Polinela. Dengan pendekatan hilirisasi, kampus tidak hanya menghasilkan riset, tetapi juga mendorong transformasi ekonomi di tingkat akar rumput.