LAMPUNG — Slate Truck hadir dengan pendekatan minimalis yang kontras dengan tren pikap listrik modern. Tampilan eksteriornya bersih dan fungsional, menjanjikan kemudahan modifikasi bagi pemilik yang ingin menambahkan aksesori aftermarket. Sayangnya, filosofi sederhana ini justru menjadi bumerang saat menyentuh aspek kenyamanan dan kualitas berkendara.
Material kabin menjadi titik lemah utama. Plastik keras mendominasi hampir setiap permukaan, dan meskipun desainnya intuitif, eksekusinya terasa seperti prototipe yang belum matang. Kursi tidak memberikan dukungan samping yang memadai, dan posisi setir hanya bisa diatur dalam dua arah — minim untuk ukuran mobil seharga hampir setengah miliar rupiah.
Suspensi juga belum sepenuhnya siap untuk jalanan Indonesia yang penuh polisi tidur dan lubang. Slate Truck terasa limbung saat melintasi gelombang jalan, dan guncangan dari permukaan kasar langsung terasa hingga ke tulang belakang pengemudi.
Motor listriknya menghasilkan tenaga yang cukup untuk akselerasi 0-60 km/jam dalam hitungan detik, tapi tenaga puncak terasa cepat habis. Saat diisi muatan ringan, Slate Truck masih lincah. Namun, ketika kami mensimulasikan beban kerja seperti mengangkut material bangunan, tarikannya langsung terasa berat dan boros daya.
Pabrikan mengklaim jarak tempuh sekitar 190 kilometer per pengisian penuh — angka yang realistis untuk penggunaan kota, tapi sangat terbatas untuk perjalanan antar kota. Sistem regenerative braking bekerja cukup baik, tapi tidak cukup agresif untuk mengisi ulang baterai secara signifikan saat deselerasi.
Slate Truck memang menawarkan beragam opsi kustomisasi, mulai dari panel bodi yang bisa diganti hingga konfigurasi bak belakang yang fleksibel. Namun, semua aksesori ini dijual terpisah dan harganya tidak murah. Untuk membuat Slate Truck benar-benar fungsional, pemilik harus mengeluarkan biaya tambahan yang bisa mencapai 30-40 persen dari harga dasar.
Tanpa aksesori tersebut, Slate Truck hanya berupa kendaraan kosong yang kurang praktis. Ini menjadi ironi: mobil yang dipromosikan sebagai "kanvas kosong" justru membutuhkan investasi besar agar layak pakai.
Slate Truck adalah produk yang lahir dari ide bagus tapi eksekusi setengah matang. Untuk harga 24.950 dolar AS, konsumen Indonesia bisa mendapatkan pikap listrik bekas dari merek Jepang yang lebih andal, atau mobil listrik penumpang yang lebih nyaman.
Kecuali Slate Truck mendapatkan