BANDARLAMPUNG — Data terbaru menunjukkan, pada triwulan pertama 2026 penemuan kasus TBC di Lampung Selatan baru mencapai 1.247 kasus dari target 3.275 kasus. Artinya, capaian tersebut masih kurang dari setengah target yang ditetapkan.
Meski capaian enrollment untuk TBC sensitif obat (SO) dan resisten obat (RO) serta tingkat keberhasilan pengobatan sudah memenuhi target, beberapa indikator lain masih merah. Pemberian Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT), notifikasi kasus, dan investigasi kontak dinilai belum mencapai sasaran yang diharapkan.
Wagub Jihan menekankan perlunya integrasi program Cek Kesehatan Gratis (CKG) dengan Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB). Dari 7.321 terduga TBC yang tercatat, baru tiga pasien yang berhasil terintegrasi dalam sistem tersebut.
Pemerintah Provinsi Lampung bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) tengah mengembangkan website Peduli TBC Lampung. Platform ini dilengkapi fitur skrining mandiri dengan kategori risiko berwarna hijau, kuning, merah, dan biru, yang diharapkan mampu mendukung pelacakan kasus secara lebih terarah.
"Percepatan eliminasi TBC harus menjadi gerakan bersama. Pemerintah tidak dapat bekerja sendiri, tetapi perlu menggandeng Forkopimda, tokoh agama, tokoh masyarakat, TP PKK, akademisi, dan dunia usaha agar upaya yang dilakukan semakin efektif dan berkelanjutan," ujar Jihan dalam rapat tersebut.
Wagub juga mendorong Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan untuk memperkuat koordinasi dengan Bappeda guna mempercepat pengunggahan Surat Keputusan Desa Siaga TBC ke Dashboard Kebijakan TBC Nasional. Saat ini, kebijakan tersebut belum diunggah.
Untuk mempercepat pencapaian, sejumlah langkah operasional disepakati. Di antaranya pelaksanaan tracing TBC yang terintegrasi dengan program CKG menggunakan 166 titik layanan mesin X-Ray portabel, optimalisasi program voucher X-Ray, serta pemantauan SITB secara mingguan melalui rapat virtual yang dipimpin Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Lampung Selatan.
Jihan menegaskan, upaya eliminasi TBC tidak bisa dilakukan oleh pemerintah semata. Dukungan dan kolaborasi seluruh pihak, mulai dari Forkopimda, tokoh agama, tokoh masyarakat, TP PKK, akademisi, hingga dunia usaha, dinilai krusial agar upaya yang dilakukan semakin efektif dan berkelanjutan.
Melalui penguatan koordinasi dan kolaborasi lintas sektor hingga tingkat desa dan kelurahan, diharapkan percepatan penanggulangan TBC di Lampung Selatan dapat berjalan lebih optimal guna meningkatkan kualitas kesehatan dan produktivitas masyarakat serta mendukung tercapainya target eliminasi TBC tahun 2030.