Signet City: RPG 'Fungalpunk' dari Developer Citizen Sleeper Angkat Krisis Industrial Inggris Era 80-an

Penulis: Teguh Prasetyo  •  Selasa, 23 Juni 2026 | 00:59:01 WIB
Signet City mengangkat krisis industrial Inggris era 1980-an dalam balutan RPG 'fungalpunk'.

LAMPUNG — Signet City bukan sekadar RPG biasa. Game ini menempatkan pemain sebagai entitas parasit yang harus mengambil alih kendali berbagai tubuh manusia untuk mencapai tujuannya sendiri. Latar kota yang suram dan penuh tekanan ini sengaja dirancang untuk mencerminkan sejarah kelam Inggris, khususnya era kepemimpinan Margaret Thatcher.

Inspirasi dari Krisis Galangan Kapal Newcastle

Damian Martin mengaku terinspirasi dari masa kecilnya di Inggris dan pengalamannya bekerja di perusahaan desain teater. Salah satu produksi yang membekas adalah musikal Sting berjudul The Last Ship, yang bercerita tentang krisis pembuatan kapal di Newcastle pada 1980-an.

"Ada gambar-gambar menakjubkan Newcastle tahun 80-an, di mana kapal-kapal raksasa menjulang di atas rumah-rumah kecil," kenang Damian Martin. "Saya pikir itu adalah fiksi ilmiah yang terjadi di masa lalu."

Momen keruntuhan industrialisasi inilah yang kemudian menjadi fondasi visual dan naratif Signet City. Sang pengembang bahkan telah membuat sketsa kota alternatif Inggris utara versi 1980-an untuk tantangan menggambar Inktober, yang kemudian menjadi cikal bakal game ini.

Musim Dingin 1978-1979: Titik Awal Naratif

Peristiwa Winter of Discontent (Musim Dingin Ketidakpuasan) antara 1978 dan 1979 menjadi titik tolak cerita. Saat itu, Inggris mengalami musim dingin terparah dalam 16 tahun, bertepatan dengan gelombang pemogokan buruh nasional. Kombinasi cuaca ekstrem dan aksi mogok massal ini melumpuhkan ekonomi dan menjatuhkan Perdana Menteri James Callaghan.

"Di Inggris, momen itu sangat krusial. Hampir semua dialog politik diatur berdasarkan apa yang terjadi di tahun 80-an," jelas Damian Martin.

Kekalahan Partai Buruh membuka jalan bagi Margaret Thatcher dan satu dekade kebijakan Thatcherisme yang kontroversial. Dampaknya terhadap kelas pekerja, terutama di Inggris utara, menjadi tema sentral yang diangkat dalam Signet City.

Visual Ekstrim: Dari Manga Horor hingga Fotografi Sosial

Untuk urusan visual, Damian Martin tidak setengah-setengah. Ia menggabungkan estetika yang sangat kontras: dari karya fotografer sosial Tish Murtha yang mendokumentasikan komunitas marjinal di Newcastle, hingga manga horor Abara karya Tsutomu Nihei (Blame!, Knights of Sidonia).

"Ada bagian awal di Abara di mana monster aneh seperti jamur muncul, tapi mereka terbuat dari tulang," ujar Damian Martin.

Ia juga menyebut film kultus Jepang Tetsuo: The Iron Man sebagai referensi utama. Film tentang pria yang tubuhnya berubah menjadi besi ini dianggap sebagai analogi sempurna untuk perjalanan karakter dalam game: menjadi kuat namun dengan proses yang menakutkan dan merusak.

Mekanisme Unik: Main sebagai Parasit dengan Sumber Daya Emosi

Signet City menawarkan pendekatan naratif yang tidak biasa. Pemain akan membaca cerita dari dua perspektif sekaligus: sudut pandang orang kedua sebagai parasit (layaknya protagonis RPG tradisional), dan sudut pandang orang ketiga yang mewakili pikiran inang.

"Saya benar-benar ingin menempatkan pemain dalam posisi di mana mereka harus memahami dunia melalui paradigma yang pada dasarnya tidak manusiawi," kata Damian Martin.

Sebagai parasit, pemain menggunakan sumber daya bernama emosi untuk memengaruhi tindakan inang. Tujuan utamanya bukan sekadar bertahan hidup, melainkan menyelesaikan misi sendiri yang mungkin bertentangan dengan keinginan karakter yang dikendalikan.

Signet City masih dalam tahap pengembangan dan belum memiliki tanggal rilis pasti. Game ini akan tersedia di platform PC dan konsol. Bagi penggemar Citizen Sleeper atau mereka yang menyukai RPG naratif dengan tema sosial-politik yang kuat, Signet City patut masuk daftar pantauan.

Reporter: Teguh Prasetyo
Sumber: engadget.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top