Taiwan memang rumah bagi 90 persen produksi chip paling canggih dunia lewat TSMC — pabrik yang memasok prosesor untuk iPhone hingga GPU Nvidia yang mendorong ledakan AI global. Tak heran, Computex selalu menjadi panggung bagi merek-merek besar untuk memamerkan inovasi terbaru mereka. Tahun ini, saya melihat langsung tujuh gadget yang menonjol di antara ribuan produk lainnya.
Acemagic, merek yang mungkin belum terlalu dikenal di Indonesia, justru mencuri perhatian dengan Retro X5 mini PC. Desainnya persis seperti konsol Nintendo Entertainment System (NES) era 80-an — lengkap dengan balok abu-abu dan aksen merah khas. Tapi jangan tertipu penampilannya yang lawas.
Di dalam sasis mungil ini, tertanam prosesor AMD Ryzen AI 9 HX 370, RAM 32 GB (bisa ditingkatkan hingga 128 GB), dan penyimpanan SSD 1 TB (maksimal 4 TB). Perangkat ini juga dibekali port lengkap: HDMI, DisplayPort, USB4 Type-C untuk tiga monitor sekaligus, dua port LAN, empat USB 3.2 Type-A, serta Wi-Fi 7 dan Bluetooth 5.4. Sayangnya, tidak ada GPU diskrit — tapi chip Ryzen AI 9 disebut cukup kuat untuk menjalankan game populer di 1080p dengan pengaturan rendah hingga sedang. Jika kurang, Anda bisa menambahkan GPU eksternal lewat port USB4.
Selama ini, hampir semua konsol genggam PC — seperti ROG Ally — mengandalkan prosesor AMD. Acer mencoba mematahkan tren itu dengan Predator Atlas 8 yang menggunakan prosesor Intel Arc G3, chip khusus untuk perangkat genggam yang baru diumumkan di Computex 2026. Berbeda dari chip laptop yang dipaksakan, Arc G3 dirancang untuk menyeimbangkan performa dan efisiensi baterai.
Saya sempat mencoba memainkan Forza Horizon 6 di atas lantai pameran. Layar 8 inci 120 Hz dengan kecerahan 500 nit terasa lega, dan baterai 80 Wh menjanjikan sesi gaming panjang — meski belum ada angka pasti soal daya tahan. Yang mengejutkan, konsol ini tidak terasa berat meski ukurannya besar. Cocok untuk main di kasur atau di pesawat.
Meski konsol genggam sedang naik daun, Alienware membuktikan bahwa monitor ultrawide tetap punya tempat di hati gamer. Model AW3926QW yang dipamerkan memiliki lengkungan agresif dan rasio aspek 21:9, membuat pengalaman balap atau simulasi terbang terasa lebih nyata. Sayangnya, spesifikasi detail seperti refresh rate dan resolusi belum diumumkan secara resmi saat saya berada di stan.
Dari pengamatan saya, monitor ini menggunakan panel OLED dengan warna yang sangat jenuh — khas Alienware. Harganya diprediksi akan berada di kisaran premium, mengingat posisinya sebagai produk unggulan Dell untuk gaming kelas atas.
Selain tiga perangkat di atas, saya juga melihat inovasi dari Gigabyte, MSI, dan sejumlah perusahaan kecil Taiwan yang fokus pada aksesori PC dan solusi pendingin. Computex 2026 membuktikan satu hal: industri teknologi tidak hanya soal kecerdasan buatan dan chip canggih, tapi juga bagaimana menghadirkan kembali kenangan lama dengan cara yang lebih modern dan fungsional. Bagi konsumen Indonesia, beberapa produk seperti mini PC Retro X5 kemungkinan akan tersedia di platform e-commerce dalam beberapa pekan mendatang.