LAMPUNG — Sepanjang 2025, PT Timah membukukan pendapatan Rp 11,55 triliun, naik 6,41 persen dari tahun sebelumnya yang sebesar Rp 10,86 triliun. Laba usaha tercatat Rp 1,91 triliun dengan EBITDA Rp 2,76 triliun.
Dari total laba bersih Rp 1,31 triliun, separuhnya memang dialokasikan untuk dividen. Sisanya, 50 persen laba, akan ditahan sebagai saldo laba ditahan. Manajemen menyebut dana ini bakal dipakai untuk mengembangkan bisnis dan memperkuat struktur permodalan perusahaan.
Dari sisi operasional, Direktur Utama PT Timah Restu Widiyantoro melaporkan produksi bijih timah mencapai 18.635 ton Sn. Sementara itu, produksi logam timah tercatat 17.815 metrik ton, dan volume penjualan logam timah mencapai 16.634 metrik ton.
“Susunan pengurus saat ini akan terus berkomitmen untuk terus memperkuat langkah perusahaan dalam menjalankan strategi bisnis, meningkatkan kinerja operasional, memperkuat tata kelola perusahaan yang baik, serta menciptakan nilai tambah bagi seluruh pemangku kepentingan,” ujar Restu dalam keterangan resmi.
RUPST juga memutuskan perubahan susunan pengurus perusahaan. Suhendra Yusuf Ratuprawiranegara diberhentikan dengan hormat setelah masa tugasnya selesai dan mendapat penugasan baru.
Struktur direksi pun dirombak. Jabatan wakil direktur utama dihilangkan dan diganti menjadi Direktur Strategi Korporasi dan Pengembangan Usaha yang diisi Harry Budi Sidharta. Selain itu, posisi Direktur SDM diperluas menjadi Direktur SDM dan Transformasi Korporasi, kini dijabat Ratih Mayasari.
Berikut susunan direksi dan komisaris PT Timah Tbk yang baru:
Sebagai bagian dari Holding Industri Pertambangan Indonesia MIND ID, PT Timah berkomitmen menjalankan praktik pertambangan yang baik dan terus berkontribusi bagi negara, masyarakat, serta lingkungan.