Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal Resmi Wajibkan Bahasa Lampung Setiap Kamis, Hidupkan 15 Desa Budaya

Penulis: Qodri Anwar  •  Senin, 08 Juni 2026 | 20:39:01 WIB
Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal resmi wajibkan penggunaan bahasa Lampung setiap hari Kamis.

KALIANDA — Kebijakan penggunaan bahasa Lampung setiap hari Kamis di lingkungan Pemprov Lampung dinilai mulai membuahkan hasil. Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mengungkapkan, tidak hanya pegawai dan masyarakat lokal yang mengikuti aturan tersebut, tetapi warga pendatang juga mulai tertarik mempelajarinya.

“Alhamdulillah, banyak masyarakat pendatang yang mulai belajar bahasa Lampung. Bahkan sekarang sudah ada kursus dan les privat bahasa Lampung. Ini menunjukkan bahwa budaya kita dihargai oleh banyak pihak,” ujar Gubernur Mirza saat menghadiri resepsi pernikahan dan prosesi adat di Lampung Selatan, Senin (8/6/2026).

15 Desa Budaya Akan Dihidupkan Kembali

Selain penguatan bahasa daerah, Pemprov Lampung berencana merevitalisasi kampung-kampung adat sebagai pusat pelestarian budaya. Sebanyak 15 desa budaya ditargetkan untuk dihidupkan kembali agar mencerminkan kehidupan masyarakat Lampung tempo dulu.

“Desa-desa itu akan dikembangkan agar mencerminkan kehidupan masyarakat Lampung seperti ratusan tahun lalu, baik dari perilaku masyarakatnya, kebudayaannya, maupun ekosistem yang mendukungnya,” jelas Gubernur Mirza.

Program ini diharapkan tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga memperkuat sektor pariwisata berbasis kearifan lokal. Kawasan wisata budaya dan cagar budaya akan menjadi fokus utama pengembangan ke depan.

Prosesi Adat Timbang Marga: Simbol Keberlanjutan Tradisi

Penegasan komitmen tersebut disampaikan Gubernur di tengah prosesi peresmian gelar adat tertinggi pewaris takhta kepemimpinan Marga, atau Timbang Marga, di Desa Kesugihan, Kecamatan Kalianda. Acara itu dirangkaikan dengan resepsi pernikahan Ahmad Ridho, putra Azhar Marzuki bergelar Pengikhan Tihang Makhga Saibatin Makhga Legun, dengan Frety Septiani.

Gubernur menilai peristiwa adat tersebut memiliki nilai penting dalam menjaga keberlanjutan tradisi masyarakat adat Lampung. “Hari ini tidak semata menjadi momentum penyatuan dua insan, tetapi juga menjadi peristiwa adat budaya yang sangat berharga,” ujarnya.

Prosesi Timbang Marga menjadi simbol keberlanjutan kepemimpinan adat sekaligus penegasan pentingnya pelestarian tradisi di tengah gempuran modernisasi. Acara itu turut dihadiri unsur Forkopimda Lampung Selatan, tokoh adat, perangkat marga, serta masyarakat adat dari berbagai wilayah.

Target: Lampung Sebagai Destinasi Wisata Budaya

Gubernur Mirza menekankan bahwa seluruh upaya pelestarian ini bertujuan memperkuat daya tarik Lampung sebagai daerah yang kaya akan tradisi dan sejarah. “Kita ingin setiap orang yang datang ke Lampung merasa bangga dengan Lampung,” tegasnya.

Pemprov Lampung berharap kebijakan bahasa daerah dan revitalisasi desa budaya mampu menjadi identitas yang membedakan provinsi ini dengan daerah lain. Modernisasi tidak harus menghilangkan akar budaya, justru bisa menjadi nilai tambah bagi pembangunan daerah.

Reporter: Qodri Anwar
Sumber: web.lintaslampung.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top