Harga CPO Anjlok Usai Prabowo Umumkan Ekspor Sawit Satu Pintu Lewat BUMN, Malaysia Berpotensi Untung Besar

Penulis: Rizal Fikri  •  Kamis, 21 Mei 2026 | 11:16:42 WIB
Harga CPO melemah setelah pengumuman ekspor sawit satu pintu oleh Presiden Prabowo.

JAKARTA — Pasar minyak sawit global bereaksi negatif terhadap pidato Presiden Prabowo Subianto yang mengumumkan pembentukan BUMN khusus ekspor. Dalam pidatonya, kepala negara menyatakan bahwa seluruh hasil sumber daya alam Indonesia, mulai dari minyak kelapa sawit, batu bara, hingga besi fero alloy, wajib diperdagangkan melalui PT Danantara Sumber Daya Indonesia.

Kebijakan ekspor satu pintu ini langsung memicu kekhawatiran di kalangan pelaku industri. Harga CPO tercatat melemah 0,56% menjadi MYR 4.556 per ton pada hari ini, memperpanjang tren negatif setelah sehari sebelumnya juga turun 0,05% ke MYR 4.583 per ton.

Pelaku pasar kini menahan diri untuk mengambil posisi besar sebelum implementasi aturan benar-benar jelas. Fase wait and see ini diperkirakan akan berlangsung hingga pemerintah menerbitkan aturan teknis pelaksanaannya.

Mengapa Malaysia Diprediksi Untung Besar?

Di tengah ketidakpastian ini, Malaysia disebut-sebut sebagai pihak yang paling mungkin diuntungkan. Mantan Ketua Malaysian Palm Oil Association, M.R. Chandran, menilai pembeli global akan mulai mencari pemasok yang lebih stabil dan minim risiko intervensi pemerintah.

"Malaysia bisa menjadi alternatif utama bagi importir global apabila pasar menilai mekanisme ekspor Indonesia berpotensi memperlambat distribusi sawit dunia," ujar Chandran.

Direktur broker Pelindung Bestari, Paramalingam Supramaniam, juga menambahkan bahwa pembeli kemungkinan akan mengalihkan sebagian permintaan sementara ke Malaysia sampai implementasi aturan Indonesia menjadi lebih jelas.

Industri Sawit Malaysia Juga Punya Masalah Sendiri

Meski berpotensi diuntungkan, kondisi industri sawit Malaysia belum sepenuhnya kuat. Data ekspor minyak sawit Malaysia periode 1-20 Mei tercatat turun drastis, berkisar antara 13,9% hingga 20,5% dibanding bulan sebelumnya. Angka ini menunjukkan permintaan global masih sangat berhati-hati.

Selain itu, penguatan nilai tukar ringgit Malaysia sekitar 0,18% terhadap dolar AS membuat harga minyak sawit Malaysia menjadi lebih mahal bagi pembeli asing. Di sisi produksi, produsen sawit Malaysia mulai mengurangi aktivitas replanting akibat kenaikan biaya pupuk dan bahan bakar. Penundaan ini dikhawatirkan mengancam keberlanjutan pasokan global dalam jangka panjang.

Penertiban Lahan Sawit Ilegal Ikut Bebani Pasar

Sebelumnya, pemerintah Indonesia juga memperketat pengawasan industri sawit domestik. Sekitar 4,12 juta hektare lahan sawit telah diserahkan kepada Agrinas Palma Nusantara sebagai bagian dari penertiban perkebunan sawit ilegal. Langkah ini dinilai sebagai upaya memperkuat pengelolaan sektor sawit nasional, namun di sisi lain menambah tekanan bagi pasokan global.

Kontrak berjangka minyak sawit Malaysia untuk pengiriman Agustus tercatat ditutup nyaris stagnan, mengonfirmasi bahwa pasar masih menunggu kejelasan dari kebijakan baru Indonesia sebelum menentukan arah pergerakan harga selanjutnya.

Kapan Aturan Ekspor Satu Pintu Mulai Berlaku?

Hingga saat ini, pemerintah belum merilis jadwal pasti implementasi kebijakan ekspor satu pintu melalui PT Danantara Sumber Daya Indonesia. Pelaku pasar dan analis masih menanti aturan teknis yang akan menjelaskan mekanisme perdagangan, termasuk bagaimana eksportir swasta akan diintegrasikan ke dalam sistem baru ini.

Reporter: Rizal Fikri
Sumber: cnbcindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top