BANDAR LAMPUNG — IIB Darmajaya resmi melepas 495 lulusan program sarjana dan pascasarjana dalam Sidang Senat Terbuka Wisuda Ke-41 yang digelar di Gedung Bagas Raya, Rabu (20/5/2026). Prosesi ini bukan sekadar seremoni, melainkan penanda awal bagi para wisudawan untuk memasuki dunia kerja dan masyarakat.
Rektor IIB Darmajaya, RZ Abdul Aziz, S.T., M.T., Ph.D, menegaskan bahwa wisuda merupakan titik tolak berkarya. “Wisuda bukan akhir perjuangan, tetapi awal untuk berkarya dan memberi manfaat bagi bangsa. Kami ingin lulusan IIB Darmajaya menjadi generasi unggul, adaptif, inovatif, dan berdaya saing global,” ujarnya dalam sambutan.
Tiga mahasiswa terbaik di masing-masing fakultas diumumkan dalam kesempatan itu. Amelia Elga Christine dari Program Studi Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, menjadi satu-satunya wisudawan dengan IPK sempurna 4,00.
Untuk Fakultas Ilmu Komputer, Yoglenddy Joshbert Defender Talakua dari S1 Sistem Informasi meraih IPK 3,97. Tak hanya unggul secara akademik, ia juga merupakan Juara I Mekhanai Kota Bandar Lampung dan kini mewakili daerah pada ajang Muli Mekhanai Provinsi Lampung 2026.
Sementara itu, M. Bagus Pratama Putra dari Program Studi S1 Desain Komunikasi Visual mencatat IPK 3,80 dan dinobatkan sebagai mahasiswa terbaik Fakultas Desain, Hukum, Pariwisata, dan Teknologi (DHPT).
Di luar capaian individu, IIB Darmajaya juga mencatat prestasi institusional. Sebanyak 10 proposal hibah dari Kemdiktisaintek RI 2026 berhasil lolos, terdiri dari sembilan proposal penelitian dan satu pengabdian masyarakat.
Di level internasional, lima mahasiswa diberangkatkan mengikuti program student mobility ke Nantong Vocational University (NTVU), Tiongkok. Kampus juga tengah mengajukan pembukaan Program Doktor (S3) Ilmu Komputer yang diproyeksikan menjadi program doktoral ilmu komputer pertama di perguruan tinggi swasta se-Lampung.
IIB Darmajaya kini memiliki tiga guru besar, termasuk profesor baru di bidang Artificial Intelligence untuk E-Learning. Langkah ini disebut Rektor sebagai bagian dari komitmen membangun pendidikan berkelas internasional tanpa meninggalkan identitas lokal.
“Mahasiswa kami harus punya pengalaman global tanpa meninggalkan identitas lokal. Karena itu, peluang student mobility dan joint research akan terus diperluas,” ungkap Abdul Aziz.
Ia menutup sambutannya dengan ajakan kepada para wisudawan untuk terus menjaga nama baik almamater. “Sekecil apa pun karya yang dihasilkan, selama membanggakan orang tua dan bermanfaat bagi masyarakat, itu juga menjadi kebanggaan kampus dan daerah,” tuturnya. (*)