JAKARTA — BNPB mencatat lima kabupaten di Kalimantan Barat menjadi prioritas utama penanganan karhutla. Prioritas tinggi meliputi Kabupaten Ketapang, Sanggau, Landak, dan Sekadau. Adapun prioritas sedang mencakup Melawi, Kubu Raya, dan Sambas.
Meski api telah padam, kewaspadaan belum bisa diturunkan. BMKG memprakirakan potensi hujan dengan intensitas ringan baru akan terjadi di sebagian wilayah Kalimantan Barat pada periode 21-27 Agustus 2026.
Namun, di periode yang sama, potensi kemudahan terjadinya karhutla kembali tetap perlu diwaspadai. Tim gabungan pun masih disiagakan di titik-titik rawan.
Kedatangan Presiden Prabowo Subianto ke Kalimantan Barat bukan sekadar seremonial. Kepala Negara dijadwalkan meninjau langsung lokasi kebakaran dan memimpin rapat koordinasi upaya pemadaman di sejumlah wilayah Kalimantan.
Langkah ini menunjukkan perhatian serius pemerintah pusat terhadap bencana asap yang kerap melanda Pulau Kalimantan pada musim kemarau. BNPB pun diminta memastikan tidak ada lagi titik api baru yang muncul pasca-operasi pemadaman.
Asrianus Bulo menjelaskan, OMC yang berlangsung selama delapan hari tersebut dihentikan karena kondisi atmosfer tidak mendukung. "Saat ini operasi itu diistirahatkan, karena tidak ada potensi awan," ujarnya.
Kendati demikian, BNPB memastikan pesawat dan peralatan pendukung OMC tetap disiagakan. Jika potensi awan muncul kembali, operasi penyemaian garam akan langsung dilanjutkan untuk mendukung upaya pembasahan lahan gambut.
Berdasarkan data BNPB, sebaran prioritas penanganan karhutla di Kalimantan Barat terbagi dalam tiga kategori. Prioritas tinggi difokuskan di Ketapang, Sanggau, Landak, dan Sekadau.
Untuk prioritas sedang, wilayah yang menjadi perhatian meliputi Ketapang, Sanggau, Landak, Melawi, Kubu Raya, dan Sambas. Sementara prioritas ringan mencakup Ketapang, Kayong Utara, dan Kubu Raya.
Pemetaan ini menjadi acuan bagi tim darat dan udara dalam mengerahkan sumber daya pemadaman secara efektif dan tepat sasaran.