LAMPUNG — Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG Wijayanto mengungkapkan, mekanisme gempa NTT kali ini berkaitan erat dengan sesar naik di belakang busur Flores. Dalam konferensi pers Sabtu (15/8/2026), ia menjelaskan bahwa kawasan tersebut secara geologis memang memiliki energi seismik besar yang belum sepenuhnya terlepas.
“Ini adalah mekanisme gempa yang diakibatkan oleh sesar naik busur belakang Flores. Di belakang busur Flores ini ada potensi gempa dengan maksimum 7,8–7,9. Hari ini sudah rilis 7,7,” kata Wijayanto.
Wilayah ini bukan kali pertama diguncang gempa dahsyat. Wijayanto mencatat, gempa dengan mekanisme serupa pernah terjadi pada 1992 dengan kekuatan M 7,5. Peristiwa 34 tahun lalu itu meninggalkan kerusakan yang sangat parah di sejumlah wilayah NTT.
“Dari sejarah yang ada, itu pernah terjadi tahun 1992 dengan magnitudo 7,5. Ini juga sangat luar biasa kerusakannya waktu itu,” ujarnya.
Melihat catatan sejarah tersebut, gempa hari ini menjadi pengingat bahwa segmen sesar ini masih sangat aktif. Energi yang terakumulasi sejak 1992 kini kembali dilepaskan dalam bentuk getaran besar yang dirasakan luas oleh masyarakat.
Meski peringatan dini tsunami telah dicabut, BMKG tidak mengendurkan pengawasan. Tim teknis kini fokus memantau kemungkinan gempa susulan yang sering menyusul gempa utama berkekuatan besar. Masyarakat diimbau tetap waspada terhadap potensi getaran lanjutan.
Selain memantau aktivitas seismik, BMKG juga mengawasi perubahan tinggi muka air laut melalui sejumlah stasiun tide gauge yang tersebar di sekitar wilayah terdampak. Langkah ini dilakukan untuk memastikan kondisi pesisir tetap aman setelah status peringatan tsunami berakhir.
“BMKG akan terus monitor aktivitas gempa susulannya dan akan terus menyampaikan ke masyarakat,” kata Wijayanto.
Potensi gempa maksimum yang masih tersisa hingga M 7,9 menegaskan pentingnya kesiapsiagaan berkelanjutan. Dengan selisih energi yang relatif tipis dari gempa hari ini, ancaman seismik di Busur Belakang Flores belum sepenuhnya berakhir. Kewaspadaan warga dan kesiapan infrastruktur menjadi faktor krusial untuk meminimalkan risiko jika gempa besar kembali terjadi.