LAMPUNG — Tes DNA mengungkap bayi pasangan Natalie dan Joshua Strong bukan anak biologis Joshua setelah program IVF di klinik kesuburan Florida. Kasus gugatan ini membuka diskusi soal risiko kesalahan sampel sperma, sel telur, dan embrio yang jarang terjadi tapi pernah diteliti.
Natalie dan Joshua Strong menjalani program bayi tabung setelah Joshua lebih dulu menjalani vasektomi. Sperma Joshua diambil lewat prosedur pembedahan, lalu disimpan di klinik untuk dipakai dalam siklus IVF mereka.
Pada Maret 2024, pasangan asal Florida ini memiliki tujuh embrio yang disebut dibuat menggunakan sperma Joshua. Dua kali transfer embrio dijalani. Transfer pertama berakhir keguguran, transfer kedua berhasil sampai Natalie melahirkan bayi perempuan pada 5 Juni 2025.
Berawal dari Golongan Darah Bayi
Sehari setelah persalinan, pasangan tersebut menemukan hal yang membuat mereka bertanya-tanya. Golongan darah bayi tercatat B positif, sementara Natalie O negatif dan Joshua A negatif.
Joshua yang bekerja sebagai tenaga medis langsung menyadari ada ketidaksesuaian. Pasangan ini melakukan pemeriksaan lanjutan untuk memastikan tidak ada salah pencatatan. Kecurigaan akhirnya mengarah pada tes DNA.
Hasil Tes DNA dan Pertanyaan soal Sampel Sperma
Hasil tes DNA yang disebut dalam gugatan menunjukkan Joshua bukan ayah biologis bayi tersebut. Pasangan ini mempertanyakan bagaimana hal itu bisa terjadi, mengingat mereka percaya sperma Joshua yang dipakai dalam proses IVF.
Mereka juga mempertanyakan keberadaan empat vial atau tabung penyimpanan sperma Joshua yang sebelumnya disimpan di klinik. Menurut gugatan, pasangan belum mendapat penjelasan soal apa yang terjadi pada sampel tersebut, termasuk apakah masih disimpan atau sudah dipakai di prosedur lain.
Persoalan bertambah rumit karena masih ada tiga embrio dari siklus IVF yang sama dan disimpan di klinik. Natalie dan Joshua ingin tahu pasti apakah ketiga embrio itu benar-benar dibuat menggunakan materi genetik Joshua.
Gugatan ke Klinik Kesuburan
Pasangan tersebut menggugat Brown Fertility Associates, klinik kesuburan di Jacksonville, Florida. Gugatan diajukan pada September 2026 dengan sejumlah klaim, termasuk dugaan kelalaian dan penggunaan materi genetik tanpa izin. Mereka meminta ganti rugi lebih dari US$50 ribu.
"Kami sangat terpukul. Maksud saya, hal ini akan berdampak pada kami seumur hidup. Kami harus memikirkan bagaimana cara menyampaikannya kepada anak kami kelak, dan kejadian ini telah merenggut kebahagiaan luar biasa saat memiliki bayi," kata Natalie, dikutip dari NBC Miami.
Pihak Brown Fertility Associates disebut membantah klaim tersebut. Klinik menyatakan perkara sedang ditangani melalui proses litigasi sehingga belum memberikan komentar lebih jauh. Belum ada putusan pengadilan yang menetapkan bagaimana dugaan kesalahan itu terjadi atau siapa yang bertanggung jawab.
Seberapa Sering Kesalahan Sampel IVF Terjadi?
Kesalahan dalam proses IVF seperti tertukarnya atau salah identifikasi materi biologis tergolong jarang. Meski begitu, risiko ini sudah menjadi perhatian dalam penelitian soal keselamatan laboratorium reproduksi berbantu.
Sebuah systematic review yang diterbitkan dalam jurnal Fertility and Sterility meninjau berbagai publikasi mengenai kesalahan manusia di laboratorium teknologi reproduksi berbantu. Dari 420 artikel yang ditinjau, 37 publikasi masuk analisis lebih lanjut.
Temuan ini menegaskan satu hal: meski kecil, risiko sampel tertukar bukan hal yang bisa diabaikan begitu saja oleh klinik kesuburan maupun pasien.
Teknologi untuk Mencegah Sampel Tertukar
Sejumlah klinik kini memakai sistem pelacakan elektronik dan verifikasi ganda untuk memastikan setiap sampel sperma, sel telur, dan embrio teridentifikasi dengan benar. Barcode, radio frequency identification (RFID), hingga pencocokan sidik jari menjadi beberapa metode yang dipakai.
Bagi pasangan yang menjalani IVF, tidak ada salahnya menanyakan langsung ke klinik soal sistem identifikasi sampel yang mereka gunakan. Pertanyaan sederhana ini bisa menjadi langkah pencegahan yang berarti.
Yang Perlu Ibu Ketahui Sebelum Menjalani Program Bayi Tabung
Program IVF memang perjalanan panjang, baik secara fisik maupun emosional. Selain memilih klinik dengan reputasi baik, pastikan ibu dan pasangan memahami alur penyimpanan serta pelacakan sampel sejak awal.
Simpan semua dokumen terkait siklus IVF, termasuk catatan jumlah embrio dan sampel yang disimpan. Jika ada hasil yang terasa janggal, seperti ketidaksesuaian golongan darah atau hasil pemeriksaan lain, jangan ragu meminta penjelasan dan pemeriksaan lanjutan.
Kasus Natalie dan Joshua menunjukkan bahwa keterbukaan klinik dan ketelitian pasien sama-sama penting. Bayi mereka tetap disayangi sepenuhnya, meski perjalanan hukum soal asal-usul biologisnya masih berlanjut.