Pencarian

Gubernur Lampung Dorong Pekon Ampai Pesawaran Jadi Pusat Hilirisasi Kakao

Jumat, 09 Oktober 2026 • 11:32:01 WIB
Gubernur Lampung Dorong Pekon Ampai Pesawaran Jadi Pusat Hilirisasi Kakao
Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menghadiri kegiatan pemberdayaan desa wisata di Pekon Ampai, Kabupaten Pesawaran.

GEDONG TATAAN — Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menegaskan bahwa struktur ekonomi daerah ke depan harus dirancang agar pertumbuhannya inklusif. Menurutnya, nilai tambah komoditas harus dihasilkan sedekat mungkin dengan sumber bahan bakunya, yakni desa-desa sentra produksi.

"Strategi Lampung ke depan adalah mendesain struktur ekonomi agar pertumbuhannya inklusif, ikut memakmurkan dan mengentaskan kemiskinan. Caranya dengan hilirisasi, di mana nilai tambah harus dilakukan dari sumber bahan baku di desa-desa," kata Rahmat Mirzani Djausal.

Pernyataan itu disampaikan pada kegiatan pemberdayaan desa wisata melalui pelatihan, penyerahan solar dryer, dan akselerasi pengembangan ekonomi daerah komoditas kakao. Lokasinya di Pekon Ampai, Kecamatan Marga Punduh, Kabupaten Pesawaran.

Solar Dryer Dinilai Jawab Persoalan Pengeringan Musim Hujan

Bantuan solar dryer dari PT Permodalan Nasional Madani (PNM) disebut Gubernur sebagai salah satu solusi atas kendala pengeringan kakao di tingkat petani. Teknologinya sederhana, tetapi membuka peluang bagi petani memproduksi kakao kering secara lebih konsisten sepanjang tahun.

Selama ini petani kesulitan ketika panen jatuh pada musim hujan. Kakao yang belum kering harus segera dijual, sehingga harga yang diterima lebih rendah karena tidak ada fasilitas pengering memadai.

Gubernur Mirza menyebut harga kakao basah pada kondisi tertentu berada di kisaran Rp20-30 ribu per kilogram. Setelah dikeringkan, harganya bisa naik menjadi sekitar Rp70-80 ribu per kilogram.

Baru 30 Persen Komoditas Lampung Masuk Hilirisasi

Pemprov Lampung tengah mendorong agar nilai tambah komoditas tidak berhenti pada penjualan bahan mentah. Dari total komoditas Lampung yang bernilai sekitar Rp150 triliun dalam struktur PDRB, baru sekitar Rp40 triliun yang mengalami hilirisasi.

Angka itu setara tidak lebih dari 30 persen. Gubernur menilai kondisi tersebut menunjukkan masih besarnya ruang untuk memperkuat industri pengolahan berbasis komoditas lokal.

Selama ini sebagian besar nilai tambah dinikmati industri berskala besar, sementara bahan bakunya berasal dari desa-desa sentra produksi. Pola itu yang ingin dibalik melalui pendekatan hilirisasi dari tingkat pekon.

Pekon Ampai Diharapkan Jadi Produsen Solar Dryer

Gubernur Mirza berharap Pekon Ampai tidak hanya menjadi tempat pengeringan kakao. Desa itu diharapkan pula menjadi pusat pengembangan dan produksi solar dryer.

Alat tersebut diharapkan dapat ditiru, dikembangkan, lalu didistribusikan ke sentra-sentra kakao di sepanjang pesisir Lampung. Potensi kakao di wilayah itu cukup besar karena Pesawaran termasuk yang terbesar di Indonesia dan tertinggi di Lampung, khususnya di kawasan pesisir.

Selain bantuan solar dryer, penguatan ekonomi masyarakat dilakukan melalui pengembangan UMKM berbasis kakao. Pemprov Lampung, Pemkab Pesawaran, PNM, BUMN, dan pemangku kepentingan lain akan didorong berkolaborasi mengembangkan Pekon Ampai sebagai kawasan wisata budaya sekaligus sentra ekonomi masyarakat.

Follow poroslampung.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: lampungpro.co

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks