LAMPUNG TIMUR — Proyek peningkatan Ruas Jalan Bumi Jawa–Tanjung Kesuma di Lampung Timur memicu gelombang keluhan dari warga setempat. Sejumlah pemilik rumah di sepanjang ruas jalan itu memasang plang protes pada Sabtu (22/8/2026) lantaran debu pekerjaan dinilai sudah mengganggu kenyamanan dan kesehatan.
Debu terlihat membumbung tinggi setiap kali kendaraan melintas di atas permukaan jalan yang tengah dikerjakan. Kondisi ini disebut semakin parah saat siang hari ketika aspal lama telah dikeruk dan permukaan tanah kering terkena paparan matahari.
Keluhan Warga: Penyiraman Hanya Sekali Sehari
Salah seorang warga Bumi Jawa, MN, mengaku rumahnya berada tepat di depan ruas jalan yang sedang diperbaiki. Ia menilai upaya pengendalian debu dari pihak pelaksana proyek masih jauh dari kata maksimal.
"Ini sebagai bentuk protes saya. Di depan rumah saya sudah banyak debu. Jalan ini disiram hanya sekali sehari, jam 12 baru disiram. Itu pun air yang keluar seperti kencing kuda," ujar MN.
Menurut MN, volume air yang dikeluarkan saat penyiraman sangat kecil dan tidak merata. Akibatnya, jalan cepat kering kembali dan debu langsung beterbangan begitu ada kendaraan melintas, membuat aktivitas warga di dalam rumah pun ikut terganggu.
Warga Tegaskan Dukungan pada Perbaikan Jalan
Keluhan serupa disampaikan YM. Ia menegaskan bahwa pemasangan plang protes sama sekali bukan bentuk penolakan terhadap pembangunan infrastruktur. Warga justru sangat mendukung perbaikan jalan tersebut, tetapi meminta dampak sosial selama pengerjaan turut diperhatikan.
"Debunya sangat mengganggu. Kita mendukung jalan ini diperbaiki, tetapi selama proses pengerjaan seperti ini masyarakat juga harus diperhatikan. Jangan sampai setiap hari harus menghirup debu," ungkap YM.
YM berharap penyiraman dilakukan lebih rutin dan merata, terutama pada jam-jam ketika aktivitas kendaraan meningkat dan kondisi permukaan jalan mulai mengering. Hal ini dinilai krusial untuk menekan polusi udara di pemukiman padat penduduk sekitar proyek.
Evaluasi Pengendalian Debu Dinilai Mendesak
Warga berharap pihak pelaksana proyek maupun pemerintah daerah segera mengevaluasi pola pengendalian debu di lokasi. Peningkatan frekuensi penyiraman dinilai menjadi langkah paling cepat dan efektif untuk meredam keluhan masyarakat.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak pelaksana pekerjaan proyek belum memberikan keterangan resmi terkait keluhan warga tersebut. Warga berharap pekerjaan dapat terus berjalan sesuai rencana, namun dengan pengendalian debu yang lebih maksimal agar aktivitas masyarakat di sekitar lokasi tidak semakin terganggu.