LAMPUNG TENGAH — Puluhan personel Brimob Polda Lampung bersama aparat gabungan TNI-Polri masih berjaga di areal perkebunan PT Bumi Sentosa Abadi (BSA) hingga Rabu sore. Pengamanan diperketat setelah massa membakar sejumlah fasilitas perusahaan di Dusun Sriwaya, Kampung Aji Tuha, Kecamatan Anak Tuha, sekitar pukul 11.00 WIB.
Berdasarkan keterangan sumber di lokasi, hampir seluruh fasilitas fisik perusahaan yang merupakan bagian dari Sungai Budi Group (Bumi Waras) terdampak kebakaran. Mess karyawan, gudang, dan bangunan operasional lainnya ludes. Satu-satunya bangunan yang tersisa di area tersebut hanyalah masjid.
Pemicu Kericuhan: Massa Datang Saat Aktivitas Panen Sawit
Kericuhan dipicu kedatangan ratusan warga dari tiga kampung yang mendatangi kawasan perkantoran PT BSA. Mereka berkumpul di depan Asrama Askep dan meminta penjelasan soal aktivitas pemanenan kelapa sawit yang dilakukan perusahaan.
Permintaan penjelasan itu berubah menjadi ketegangan. Pekerja perusahaan diusir paksa, lalu disusul aksi pembakaran fasilitas. Polisi saat ini masih menyelidiki pemicu utama kerusuhan, mendata kerusakan, serta memastikan ada tidaknya korban jiwa.
Akademisi Ingatkan Kekerasan tak Selesaikan Masalah
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lampung, Dr. Usep Syaipudin, S.E., M.S.Ak., mengimbau seluruh pihak menahan diri dan tidak mudah terprovokasi. Menurutnya, persoalan yang berlarut-larut ini harus diselesaikan lewat dialog dan musyawarah.
"Harus saling menahan diri, karena kekerasan tidak menyelesaikan masalah dan justru merugikan masyarakat," ujar Usep, Rabu (12/8/2026).
Usep mendorong tokoh masyarakat dan tokoh adat untuk membuka ruang komunikasi. Ia juga mengingatkan warga agar tidak mudah percaya pada informasi yang belum terverifikasi, namun menegaskan bahwa sikap menahan diri bukan berarti mengabaikan proses hukum.
"Terhadap tindakan anarkis (perusakan), perlu ditindaklanjuti. Jika memang terdapat bukti pelanggaran, perlu penegakan hukum," tegasnya.
Konflik 277 Hari dan Ancaman Iklim Investasi
Sengketa lahan ini sejatinya telah berlangsung lama. Pendudukan lahan PT BSA oleh warga sudah memasuki hari ke-277, dan aktivitas perusahaan kerap memicu gesekan dengan masyarakat sekitar.
Usep menilai keamanan dan stabilitas merupakan kepentingan bersama. Konflik berkepanjangan tidak hanya merugikan masyarakat, tetapi juga berpotensi mengganggu iklim investasi di Lampung.
"Kita harus menjaga kondusivitas dan iklim investasi di Lampung," tambahnya.
Hingga berita ini diturunkan, aparat masih melakukan pengamanan dan penyelidikan di lokasi. Semua pihak didorong membuka kembali ruang dialog untuk mencari jalan keluar yang dapat diterima seluruh pihak. Pesannya tegas: jangan terprovokasi, hindari kekerasan, dan serahkan setiap dugaan pelanggaran kepada proses hukum.