BANDAR LAMPUNG — Peringatan dini gelombang tinggi dari BMKG berlaku untuk periode 11-14 Agustus 2026. Ketinggian ombak 4 hingga 6 meter masuk kategori sangat tinggi dan berisiko besar terhadap keselamatan pelayaran, terutama bagi nelayan yang mengandalkan kapal bermesin kecil.
Kondisi ini dipicu pola angin di wilayah selatan Indonesia yang umumnya bertiup dari Timur hingga Tenggara dengan kecepatan 12-25 knot. Kecepatan angin tertinggi terpantau di sejumlah titik, termasuk Samudra Hindia selatan Banten hingga Jawa Tengah serta Laut Arafuru.
Daerah Rawan Terdampak Gelombang Tinggi
Selain perairan barat Lampung, potensi gelombang 4 hingga 6 meter juga membayangi Samudra Hindia selatan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Samudra Hindia selatan Jawa Tengah. Sementara itu, gelombang setinggi 2,5 hingga 4 meter berpeluang terjadi di Samudra Hindia barat Bengkulu, selatan Jawa Barat, selatan Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara Barat.
BMKG menegaskan tingginya gelombang dapat membahayakan aktivitas pelayaran, khususnya kapal nelayan, kapal tongkang, maupun kapal feri yang beroperasi di wilayah perairan terdampak.
Imbauan untuk Nelayan dan Operator Kapal
Masyarakat pesisir, nelayan, serta pelaku transportasi laut diminta menjadikan kondisi cuaca dan gelombang sebagai pertimbangan utama sebelum kapal melaut. Kewaspadaan ekstra diperlukan lantaran kondisi gelombang tinggi dapat berubah sewaktu-waktu.
BMKG mengimbau agar seluruh pihak terus memantau perkembangan informasi cuaca dan gelombang melalui kanal resmi sebelum beraktivitas di laut. Langkah ini untuk mengantisipasi risiko kecelakaan akibat cuaca ekstrem yang sedang berlangsung.
Untuk wilayah pesisir barat Lampung yang meliputi perairan Krui, Kota Agung, hingga sekitar Teluk Semaka, nelayan tradisional disarankan tidak memaksakan diri melaut dalam beberapa hari ke depan. Operator kapal penyeberangan juga diminta mengecek ulang jadwal pelayaran menyesuaikan prakiraan cuaca terbaru dari BMKG.