Bayi 24 Hari Diduga Dicekoki Telur Mentah, IDAI Ingatkan Aturan MPASI

Penulis: Rendi Kusuma  •  Senin, 12 Oktober 2026 | 11:36:31 WIB
Ilustrasi bayi menerima ASI eksklusif sebagai standar pemberian makan pada enam bulan pertama.

LAMPUNG — Kasus bayi berusia 24 hari bernama Alena yang diduga dicekoki telur mentah oleh neneknya untuk menurunkan demam viral di media sosial. Alena sempat dirawat di NICU RSUD Dr Soetomo, Surabaya, dan kabar duka atas kepergiannya turut beredar. IDAI menegaskan pemberian makanan pada bayi harus mengikuti usia, kesiapan perkembangan, dan keamanan pangan.

Ikatan Dokter Anak Indonesia angkat bicara soal pemberian makanan yang tidak sesuai usia bayi. Ketua Umum IDAI dr Piprim Basarah Yanuarso menekankan bahwa ASI eksklusif selama 6 bulan pertama tetap menjadi standar utama.

Bayi yang belum masuk usia MPASI tidak membutuhkan makanan atau minuman tambahan apa pun. Termasuk air putih, jus, kaldu, hingga bahan makanan yang diencerkan.

Kapan MPASI Sebaiknya Dimulai

WHO merekomendasikan MPASI dimulai saat bayi berusia 6 bulan. Di usia itu, kebutuhan energi dan zat gizi bayi sudah melampaui jumlah yang bisa dipenuhi ASI saja.

Dalam kondisi tertentu, MPASI bisa dipertimbangkan sejak usia 4 bulan atau 17 minggu. Namun ini bukan rekomendasi rutin dan wajib melalui penilaian dokter.

Pemberian MPASI sebelum usia 4 bulan tidak dianjurkan sama sekali. Keputusan maju atau mundurnya jadwal MPASI harus mempertimbangkan kondisi kesehatan, kebutuhan nutrisi, dan kemampuan makan bayi.

Tanda Bayi Siap Menerima MPASI

Kesiapan bayi tidak bisa dinilai dari satu tanda saja. dr Piprim menegaskan penilaian harus menyeluruh. Beberapa tandanya:

  • Kepala dan leher stabil saat diposisikan
  • Bisa duduk dengan bantuan dan menahan posisi tubuh
  • Koordinasi mulut dan kemampuan menelan tekstur sesuai usia
  • Mulai tertarik pada makanan dan bisa menerima suapan dari sendok

Memberi makanan yang tidak sesuai usia, kemampuan menelan, atau tekstur bisa memicu tersedak. Risiko lain adalah aspirasi, yakni masuknya makanan ke saluran napas, hingga gangguan pemberian makan.

Bahaya Telur Mentah untuk Bayi

Telur mentah atau setengah matang tidak dianjurkan untuk bayi dan anak. Alasan utamanya keamanan pangan, bukan soal gizi.

Telur mentah berpotensi mengandung bakteri Salmonella penyebab salmonelosis. Infeksi ini memunculkan diare, demam, nyeri perut, muntah, sampai dehidrasi.

Pada bayi dan anak kecil, infeksi Salmonella bisa berlangsung lebih berat. Komplikasi serius pun mengintai, terutama bila daya tahan tubuh anak belum matang.

IDAI juga menegaskan telur mentah tak memberi keuntungan gizi yang sebanding dengan risikonya. Keamanan, tekstur, dan cara penyajian makanan harus selalu disesuaikan dengan usia serta kemampuan makan anak.

Kapan Perlu ke Dokter

Segera bawa bayi ke fasilitas kesehatan bila muncul demam tinggi, diare berulang, muntah terus-menerus, atau tanda dehidrasi seperti mata cekung dan pipis berkurang. Jangan menunda, apalagi mencoba pengobatan rumahan tanpa dasar medis.

Bayi di bawah 6 bulan yang mengalami gejala apa pun sebaiknya diperiksa dokter. Kondisi mereka bisa memburuk cepat karena sistem imun belum sempurna.

Pola makan bayi bukan soal tradisi turun-temurun, tapi soal kesiapan biologis dan keamanan pangan. Memegang prinsip ASI eksklusif 6 bulan dan MPASI sesuai usia adalah cara paling aman melindungi si kecil.

Reporter: Rendi Kusuma
Sumber: health.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top