LAMPUNG — PT Hassana Boga Sejahtera Tbk (NAYZ) menandatangani perjanjian pengalihan 5,69 juta saham Bangkok Tellink Co Ltd senilai US$ 125 juta atau sekitar Rp 2,23 triliun dari Saiko Consultancy Pte Ltd. Transaksi itu menandai pergeseran bisnis emiten makanan bayi ini ke sektor telekomunikasi, delapan bulan setelah Saiko Consultancy masuk sebagai pengendali baru.
Perjanjian jual beli bersyarat itu diteken melalui keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia. Jumlah saham yang diambil alih mewakili 75% dari seluruh modal ditempatkan dan disetor Bangkok Tellink, perusahaan teknologi telekomunikasi dan solusi digital terintegrasi yang berbasis di Thailand.
Direktur NAYZ Nusttanakit Sasiarnon menyebut transaksi masih menunggu sejumlah syarat pendahuluan. Salah satunya persetujuan RUPS independen perseroan.
Struktur pembayaran transaksi disusun dalam dua tahap. Sebanyak 20% dari saham Bangkok Tellink yang diambil alih akan dibayar tunai setelah transaksi selesai. Sisanya, 80%, dikontribusikan Saiko Consultancy kepada NAYZ sebagai setoran modal dalam bentuk selain uang atau inbreng.
Inbreng tersebut akan dipakai untuk pelaksanaan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD). Artinya, pemegang saham NAYZ berpotensi terdilusi jika tidak mengeksekusi haknya dalam rights issue yang menyertai transaksi ini.
Penyelesaian transaksi juga bergantung pada pemenuhan persyaratan pendahuluan lain yang diatur dalam perjanjian. Belum ada keterangan resmi soal tenggat waktu penutupan deal tersebut.
Saiko Consultancy merupakan perusahaan holding asal Singapura yang menjadi pengendali baru NAYZ. Aksi perubahan pengendali terjadi pada 19 Agustus 2026, ketika Saiko mengambil alih 750.000.000 saham NAYZ atau setara 29,41% dari total modal ditempatkan dan disetor.
Saham tersebut dibeli dari PT Asia Intrainvesta. Di NAYZ, Nusttanakit tercatat sebagai pemilik manfaat akhir melalui Saiko Consultancy yang menggenggam 29,41% saham perseroan. Ia juga menjabat sebagai direktur NAYZ sejak RUPSLB pada Jumat (2/10) lalu.
Setelah menguasai saham pengendali, Saiko menyiapkan dana maksimal Rp 87,68 miliar untuk melaksanakan penawaran tender wajib atau mandatory tender offer atas saham publik NAYZ. Anak usahanya, PT Saiko Consultancy Grand, ditunjuk sebagai pelaksana tender tersebut.
Pasar merespons rencana akuisisi Bangkok Tellink dengan reli. Saham NAYZ melonjak 9,59% ke level Rp 80 pada perdagangan Senin (5/10), lalu melesat 10% ke level Rp 88 pada Selasa (6/10).
Dalam sepekan, saham NAYZ telah melonjak 27,54%. Pergerakan itu terjadi di tengah kinerja fundamental perseroan yang masih tertekan.
Pada semester pertama 2026, NAYZ membukukan rugi Rp 2,97 miliar. Angka itu membengkak 156,03% dibandingkan rugi Rp 1,16 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Pendapatan perseroan merosot dari Rp 17,80 miliar menjadi Rp 3,64 miliar secara tahunan. Beban keuangan NAYZ juga meningkat dari Rp 30,06 juta menjadi Rp 40,17 juta secara year on year.
Bagi investor, transaksi ini menempatkan NAYZ pada dua taruhan sekaligus: prospek bisnis telekomunikasi Bangkok Tellink di kawasan Asia Tenggara, dan risiko eksekusi rights issue yang menyertai pembayaran inbreng. Persetujuan RUPS independen menjadi kunci apakah skema backdoor listing ini berjalan sesuai rencana.