LAMPUNG — Kimi Antonelli memimpin klasemen Formula 1 2026 dengan keunggulan 81 poin atas rekan setimnya di Mercedes, George Russell, setelah 14 grand prix. Pembalap Italia berusia 20 tahun itu mengaku sudah merasakan perubahan besar sejak lap-lap pertamanya mengendarai mobil Mercedes musim ini di Silverstone.
Antonelli menyebut sesi tes di Silverstone pada Januari lalu sebagai titik balik yang mengubah cara dia mengendarai mobil. Saat itu ia hanya menjalani beberapa lap di lintasan basah, namun sensasinya jauh berbeda dibanding musim debutnya pada 2025.
"Itu hanya beberapa lap di kondisi basah, tapi saya sudah merasa lebih baik di dalam mobil, jauh lebih baik daripada yang saya rasakan tahun lalu," kata Antonelli dalam wawancara eksklusif dengan BBC Sport. "Mobilnya juga terasa bagus, tapi yang paling berubah adalah kondisi mental saya. Lebih rileks, lebih tenang, dan lebih matang."
Musim pertama Antonelli di Formula 1 pada 2025 berjalan jauh dari harapan. Ia tampil di bawah performa Russell dan mengaku kesulitan mengeluarkan potensi terbaiknya karena selalu berkendara dalam kondisi tegang.
"Saya berkendara dengan sangat tegang hampir sepanjang waktu, saya tidak bisa mengeluarkan potensi saya," ujarnya. "Tahun ini jauh berbeda. Perubahan pola pikir adalah hal yang paling besar."
Bayang-bayang kecelakaan di Monza 2024 ternyata masih menghantui penampilannya sepanjang musim lalu. Insiden itu terjadi pada sesi latihan bebas pertama, sehari setelah Mercedes resmi mengumumkan dirinya sebagai pengganti Lewis Hamilton yang pindah ke Ferrari.
Antonelli tampil sangat cepat pada lap terbang pertamanya di Monza, tetapi kemudian mengalami kecelakaan hebat di lap kedua. Insiden tersebut meninggalkan bekas mendalam pada mentalnya.
"Monza bertahan di kepala saya untuk waktu yang sangat lama," kata Antonelli. "Setidaknya sepanjang musim lalu. Itu benar-benar menghambat saya."
Ia mengaku rasa takut melakukan kesalahan semakin kuat ketika melewati periode sulit pada pertengahan 2025. "Saat itu sudah masa yang berat, dan saya berpikir, kalau saya melakukan kesalahan atau kecelakaan, semuanya akan jadi lebih buruk," ujarnya.
Manajer tim Mercedes, Toto Wolff, saat itu berusaha meredam situasi dengan menyatakan bahwa kesalahan adalah bagian dari proses pembelajaran pembalap muda. Namun di balik layar, dampaknya terhadap Antonelli jauh lebih besar dari yang terlihat.
Memasuki musim 2026, Antonelli menjalani persiapan pramusim yang sangat intens. Selain latihan fisik dan teknis, ia banyak bekerja dengan pelatih mental untuk membenahi cara berpikir dan fokus pada tujuan.
"Pola pikir menjelang musim ini terutama tentang bagaimana mengeluarkan lebih banyak potensi saya," kata Antonelli. "Saya juga banyak bekerja dengan pelatih mental, mencoba menata pikiran, memahami tujuan, dan yang terpenting tetap hadir di momen saat ini."
Hasilnya terlihat jelas. Setelah 14 grand prix, Antonelli unggul 81 poin atas Russell. Ia tampil konsisten cepat dan terkendali di setiap balapan, membuat banyak pihak menilai gelar juara dunia praktis sudah di tangannya kecuali terjadi musibah besar.
Momen kedua yang membuka mata Antonelli terjadi pada balapan pembuka di Australia. Russell memenangi balapan itu, tetapi Antonelli finis kurang dari tiga detik di belakangnya meski sempat mengalami kecelakaan besar di sesi latihan bebas ketiga.
"Saya mengalami kecelakaan yang sangat besar di FP3. Tapi berkat kerja mekanik, saya bisa kembali ke mobil dan mendorong lagi di kecepatan tinggi," kenangnya. "Kecelakaan itu memang mengganggu kualifikasi dan balapan karena kami tidak bisa menyetel mobil dengan tepat."
Meski demikian, ia tetap mampu menempel ketat Russell. "Saya berpikir, ini tidak akan mudah, akan sangat berat. Tapi saya sudah tahu ceritanya berbeda dibanding tahun lalu. Kalau itu terjadi tahun lalu, saya tidak akan bisa melewatinya," ujarnya.
Antonelli mengaku bahkan dirinya sendiri terkejut dengan besarnya kemajuan yang ia capai musim ini. Dengan delapan atau sembilan balapan tersisa, ia tinggal menjaga konsistensi untuk mengunci gelar juara dunia pertamanya.