LAMPUNG — Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) turun 0,40% ke Rp6.200 per saham pada sesi pagi perdagangan Selasa (22/9/2026), bergerak berlawanan dengan IHSG yang justru dibuka menguat 0,12% ke level 6.392. Pelemahan saham bank berkapitalisasi pasar terbesar di BEI itu terjadi di tengah sentimen positif bursa Amerika Serikat dan lonjakan Bitcoin ke kisaran US$85.800.
Data TradingView per pukul 09.51 WIB menunjukkan harga BBCA berada di Rp6.200, turun 0,40% dari posisi sebelumnya. Angka itu tercatat saat sesi perdagangan masih berjalan, bukan harga penutupan.
Pergerakan BBCA tidak berdiri sendiri. Saham perbankan besar lain di Bursa Efek Indonesia (BEI) bergerak variatif pada waktu yang sama, dengan BBRI justru melemah lebih dalam.
BBRI Turun 2,12%, BMRI Stagnan di Rp4.200
PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) tercatat turun 2,12% ke Rp3.230, pelemahan yang jauh lebih tajam dibanding BBCA. Sementara PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) relatif stagnan di kisaran Rp4.200.
Data volume, kapitalisasi pasar, dan rentang 52 minggu diambil dari Ajaib pada pagi yang sama. Harga dapat berubah sewaktu-waktu dan berbeda dari posisi terkini di bursa.
IHSG Dibuka ke 6.392, Ditopang Rally Saham AI dan Bitcoin
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat 0,12% ke 6.392 dari penutupan sebelumnya di 6.384,72. Indeks sempat tertekan ke 6.378 pada awal sesi sebelum rebound ke kisaran 6.400-6.412.
Penguatan pagi itu ditopang dua faktor utama: bursa saham Amerika Serikat yang menguat berkat rally saham-saham berbasis kecerdasan buatan, serta lonjakan harga Bitcoin ke kisaran US$85.800.
Sektor siklikal dan bahan baku dasar memimpin penguatan, sementara sektor kesehatan tercatat melemah. Data ini mengacu pada laporan CNBC Indonesia dan Liputan6 per sesi pagi 22 September 2026.
Pasar Menanti Hasil RDG Bank Indonesia 23 September
Pelaku pasar menantikan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang dijadwalkan berlangsung 23 September 2026. Sejumlah analis memproyeksikan bank sentral menahan BI Rate di level 5,75%.
Keputusan suku bunga itu akan menjadi katalis penting bagi saham-saham perbankan. Sektor keuangan sangat sensitif terhadap arah kebijakan moneter karena margin bunga bersih (NIM) dan biaya dana (cost of fund) bergantung pada level suku bunga acuan.
Divergensi IHSG dan Sektor Keuangan
Pergerakan saham-saham bank besar yang berlawanan arah dengan IHSG menunjukkan divergensi jangka pendek antara indeks utama dan bobot sektor keuangan. Pola ini tidak bisa dijadikan dasar tunggal untuk menilai kondisi fundamental emiten.
Bagi investor, divergensi semacam ini biasanya menjadi sinyal rotasi sektor. Dana asing yang masuk ke saham siklikal dan komoditas cenderung keluar dari perbankan dalam jangka pendek, meski prospek jangka panjang tetap bergantung pada kinerja kredit dan kualitas aset masing-masing bank.
BBCA sendiri masih menjadi saham dengan kapitalisasi pasar terbesar di BEI. Pergerakan 0,40% pada saham sebesar BBCA cukup untuk menggerakkan indeks secara signifikan, sehingga arah saham ini kerap dijadikan acuan sentimen pasar terhadap sektor perbankan secara keseluruhan.