LAMPUNG — Autisme lebih banyak dialami anak laki-laki dibanding anak perempuan, dan penelitian terbaru menunjukkan plasenta ibu bisa jadi titik awalnya. Simak empat faktor lingkungan selama kehamilan yang dikaitkan dengan risiko autisme, plus penjelasan mengapa janin laki-laki tampak lebih rentan.
Autisme adalah kondisi perkembangan kompleks yang memengaruhi cara seseorang berinteraksi, berkomunikasi, dan berperilaku. Meski penyebab pastinya belum sepenuhnya dipahami, genetika disebut sebagai salah satu faktor paling kuat karena autisme cenderung menurun dalam keluarga.
Namun, para peneliti juga menyoroti faktor lingkungan selama kehamilan yang bisa ikut berkontribusi. Lingkungan prenatal memengaruhi bagaimana otak bayi berkembang, sehingga kondisi ibu dan paparan tertentu perlu diperhatikan.
Beberapa kondisi dan paparan selama kehamilan disebut dapat meningkatkan risiko autisme pada anak. Berikut rangkumannya.
Kesehatan ibu berperan penting dalam perkembangan janin. Beberapa kondisi medis selama kehamilan dikaitkan dengan risiko autisme lebih tinggi, termasuk diabetes gestasional, obesitas, gangguan autoimun, dan infeksi.
Usia ibu masuk dalam daftar faktor risiko potensial. Studi menunjukkan ibu berusia 35 tahun ke atas lebih mungkin memiliki anak dengan autisme, kemungkinan terkait perubahan pada sel telur seiring waktu yang meningkatkan risiko mutasi genetik.
Komplikasi kehamilan seperti preeklamsia dan perdarahan juga turut dikaitkan. Kondisi ini dapat mengganggu aliran oksigen dan nutrisi ke janin, sehingga berpotensi memengaruhi perkembangan otaknya.
Paparan bahan kimia tertentu selama kehamilan dapat berdampak negatif pada perkembangan otak janin. Racun lingkungan yang dikaitkan dengan peningkatan risiko autisme antara lain pestisida, logam berat, dan polusi udara.
Beberapa obat, terutama yang memengaruhi sistem saraf pusat, dapat mengganggu perkembangan otak. Contohnya obat anti kejang dan obat psikiatri. Konsultasikan selalu dengan dokter sebelum mengonsumsi obat apa pun saat hamil.
Kehamilan yang berjalan mulus tak selalu bebas dari risiko. Infeksi tertentu saat hamil dikaitkan dengan kemungkinan lebih tinggi anak di