LAMPUNG — Tarian tradisional Lampung bukan hanya rangkaian gerak yang dipertontonkan di atas panggung. Di dalamnya tersimpan cara masyarakat Lampung menyampaikan penghormatan, kegembiraan, penerimaan terhadap tamu, sampai gambaran hubungan manusia dengan lingkungan dan adat. Warisan budaya ini juga menunjukkan bahwa tradisi dapat terus bergerak mengikuti zaman tanpa kehilangan akarnya.
Salah satu yang paling mudah dikenali adalah Tari Sigeh Penguten yang berfungsi sebagai tari penyambutan. Penelitian mengenai pembelajarannya mencatat sejumlah ragam gerak seperti lapah tebeng, seluang mudik, jong simpuh, sembah, samber melayang, ngerujung, hingga beberapa variasi gerak lainnya.
Namun khazanah tari Lampung jauh lebih luas. Tari Melinting dari Lampung Timur, misalnya, memiliki sejarah berbeda. Tarian ini awalnya berkaitan dengan lingkungan bangsawan dan upacara tertentu, lalu berkembang sehingga dapat ditampilkan dalam acara resmi, festival, serta penyambutan tamu.
Memahami perbedaan fungsi setiap tari menjadi penting, terutama saat hendak menentukan tarian untuk pernikahan, penyambutan tamu, pertunjukan sekolah, festival budaya, atau acara pemerintahan.
Setiap tari mempunyai konteks. Karena itu, pemilihan tari sebaiknya dimulai dari tujuan pertunjukan, bukan sekadar dari gerakan yang terlihat menarik. Lampung memiliki dua lingkungan adat besar yang kerap disebut dalam pembahasan kebudayaannya, yakni Pepadun dan Saibatin. Perbedaan lingkungan adat tersebut turut memengaruhi bentuk kesenian, busana, simbol, dan tradisi yang berkembang di berbagai wilayah.
Tari Sigeh Penguten merupakan pilihan paling kuat apabila sebuah acara membutuhkan tari pembuka untuk menyambut tamu. Fungsi penyambutan terlihat dari penggunaan tari tersebut dalam kegiatan resmi. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, misalnya, mendokumentasikan penampilan Sigeh Pengunten sebagai tari selamat datang dalam kegiatan di Lampung.
Ciri yang dapat diperhatikan antara lain:
Untuk acara pernikahan, tari ini dapat ditempatkan saat rombongan keluarga atau tamu kehormatan memasuki lokasi. Untuk acara pemerintahan, penampilannya dapat digunakan sebelum sambutan pejabat atau pembukaan resmi.
Tari Melinting memiliki karakter berbeda karena berakar pada sejarah di wilayah Melinting, Lampung Timur. Kajian tentang Tari Melinting mencatat bahwa tarian ini pernah menjadi tarian yang bersifat sakral dan hanya ditampilkan pada kesempatan tertentu. Dalam perkembangannya, fungsi tersebut berubah sehingga Tari Melinting juga hadir dalam acara resmi, festival, dan penyambutan tamu kehormatan.
Perubahan itu menunjukkan kesenian tradisional tidak selalu harus dipertahankan dalam satu bentuk pertunjukan. Ada ruang adaptasi selama identitas dan pemahaman terhadap asal-usulnya tetap dijaga.
Busana Tari Melinting juga memiliki kekhasan. Penari perempuan dapat mengenakan siger, tapis, jungsarat, gelang kano, kalung buah jukum, dan aksesori lainnya. Sementara penari laki-laki memiliki kelengkapan seperti kopiah emas, jungsarat, papan jajar, sesapur handak, sinjang tuppal, serta celana teluk belanga.
Perkembangan acara modern membuat kebutuhan terhadap pertunjukan tari semakin beragam. Tari tradisional tidak hanya hadir dalam upacara adat, tetapi juga masuk ke ruang pendidikan, festival, hotel, gedung pemerintahan, hingga panggung ekonomi kreatif. Pemilihan tari perlu disesuaikan dengan suasana acara agar pertunjukan terasa menyatu dengan keseluruhan agenda.
Untuk pernikahan. Sigeh Penguten merupakan pilihan paling aman untuk membuka acara karena karakter dasarnya memang berkaitan dengan penyambutan. Susunan sederhana dapat dibuat seperti berikut:
Jika konsep pernikahan sangat menonjolkan identitas keluarga Lampung, Tari Melinting juga dapat dipertimbangkan, khususnya apabila keluarga mempunyai keterkaitan dengan tradisi Melinting.
Untuk acara sekolah. Pertunjukan sekolah membutuhkan tari yang relatif mudah dipelajari secara bertahap. Sigeh Penguten cukup menarik karena dokumentasi penelitian pendidikan menunjukkan tari ini memang digunakan sebagai materi pembelajaran ekstrakurikuler. Metode latihan yang diteliti dilakukan secara berulang: pengajar memperagakan gerakan, siswa memperhatikan, kemudian melakukan gerakan bersama dan mendapatkan koreksi.
Pola latihan tersebut dapat diterapkan dalam beberapa tahap:
Pola bertahap jauh lebih efektif daripada langsung menghafalkan seluruh koreografi.
Untuk penyambutan tamu resmi. Sigeh Penguten paling sesuai apabila tujuan utama adalah memberikan penghormatan kepada tamu. Durasi pertunjukan dapat disesuaikan dengan agenda acara. Namun, pemangkasan sebaiknya dilakukan oleh pelatih atau sanggar yang memahami struktur tari agar bagian penting tidak terpotong sembarangan.
Gerak tari tidak hanya perlu dihafalkan, tetapi juga dipahami karakternya. Dokumentasi penelitian pembelajaran Sigeh Penguten menyebut berbagai ragam gerak, antara lain lapah tebeng, seluang mudik, jong silo ratu, sembah, jong simpuh, kilat mundur, samber melayang, ngerujung, dan sejumlah gerak lain.
Hal yang perlu diperhatikan saat latihan:
Keempat aspek tersebut penting karena tari tradisional tidak cukup dinilai dari hafalan gerakan. Gerakan yang tepat tetapi tanpa ekspresi penghormatan akan membuat karakter Sigeh Penguten terasa datar.
Busana adalah bagian penting dari identitas tari. Gerakan yang bagus dapat kehilangan konteks apabila pakaian yang digunakan terlalu jauh dari karakter daerah. Pada Tari Melinting, misalnya, kajian budaya mencatat penggunaan siger dan tapis pada penari perempuan serta sejumlah kelengkapan busana tradisional lainnya. Penelitian tersebut juga menegaskan bahwa siger dan tapis merupakan identitas penting dalam kebudayaan Lampung.
Cara memilih kostum pertunjukan:
Untuk pertunjukan sekolah, kostum dapat dibuat lebih sederhana dengan tetap mempertahankan elemen visual utama.
Tari tidak berdiri sendiri. Musik, jarak penonton, pencahayaan, dan ukuran panggung memengaruhi kualitas pertunjukan. Pada panggung yang sempit, formasi penari perlu dikurangi agar gerakan tidak bertabrakan. Sebaliknya, panggung besar memungkinkan formasi lebih lebar.
Rekomendasi teknis panggung:
Pencahayaan juga sebaiknya tidak terlalu redup. Detail tangan, ekspresi, serta aksesori kepala merupakan bagian dari pertunjukan yang perlu terlihat jelas.
Pertunjukan budaya Lampung dapat ditemukan melalui sejumlah ruang kebudayaan, sekolah, sanggar, festival daerah, kegiatan pemerintahan, dan agenda pariwisata. Untuk pembelajaran yang lebih serius, sanggar tari menjadi pilihan yang lebih baik daripada hanya mengandalkan video. Pelatih dapat memperbaiki posisi tangan, arah pandangan, tempo, serta sikap tubuh secara langsung.
Pilihan tempat belajar:
Sanggar juga dapat membantu menentukan tari berdasarkan tujuan acara. Ini penting karena kebutuhan pertunjukan pernikahan tidak selalu sama dengan pertunjukan lomba atau festival.
Belajar tari tradisional membutuhkan kesabaran karena beberapa gerakan memiliki istilah dan pola yang tidak familiar. Tahapan latihan yang efektif meliputi:
Repetisi menjadi kunci. Penelitian pembelajaran Sigeh Penguten menunjukkan gerakan diajarkan melalui demonstrasi dan pengulangan sampai peserta didik mampu mengikuti pola yang diberikan. Metode tersebut juga membantu mengurangi kesalahan ketika jumlah penari cukup banyak.
Pelestarian budaya tidak cukup dilakukan dengan menyimpan dokumentasi atau menampilkan tari setahun sekali. Kesenian akan tetap hidup ketika generasi baru mengenal geraknya, memahami maknanya, mengetahui asal-usulnya, dan memiliki ruang untuk mempertunjukkannya.
Tari Melinting memberikan contoh menarik. Tarian yang dahulu memiliki konteks sakral kemudian mengalami perubahan fungsi dan kini dapat hadir dalam festival serta acara resmi. Perubahan tersebut memperlihatkan adanya kemampuan tradisi untuk beradaptasi. Di sisi lain, pembelajaran Sigeh Penguten di sekolah menunjukkan bahwa pendidikan dapat menjadi jalur penting untuk pewarisan budaya. Gerak tari tidak hanya menjadi materi seni, tetapi juga cara mengenalkan identitas daerah kepada generasi muda.
Apa tari Lampung yang paling cocok untuk menyambut tamu?
Sigeh Penguten merupakan pilihan yang sangat sesuai karena memang memiliki fungsi sebagai tari penyambutan.
Apa Tari Melinting masih digunakan saat ini?
Ya. Kajian mengenai Tari Melinting mencatat bahwa tarian tersebut kini dapat dipentaskan dalam acara resmi, festival, dan penyambutan tamu kehormatan.
Apakah tari tradisional Lampung bisa ditampilkan dalam acara modern?
Bisa. Bentuk pertunjukan dapat disesuaikan dengan panggung dan durasi acara selama karakter utama, etika pertunjukan, dan konteks budayanya tetap dihormati.
Apakah Sigeh Penguten bisa dipelajari di sekolah?
Bisa. Penelitian pendidikan menunjukkan Sigeh Penguten telah digunakan sebagai materi kegiatan ekstrakurikuler dan dipelajari melalui metode demonstrasi serta pengulangan.
Setiap langkah dalam tarian tradisional Lampung membawa cerita tentang penghormatan, identitas, dan ingatan kolektif. Selama masih ada panggung, sanggar, sekolah, dan generasi yang bersedia belajar, gerak-gerak itu tidak akan menjadi sekadar peninggalan masa lalu—melainkan tetap menjadi denyut budaya Lampung.