LAMPUNG — Kepala Pelatih Tunggal Putri Indonesia Imam Tohari menyebut keberangkatan lebih awal memberi ruang bagi para atlet menyesuaikan diri dengan kondisi Jepang. Ia menilai waktu singkat di Tokyo tetap punya nilai besar bagi persiapan tim.
Menurut Imam, TC ini bukan program jangka panjang. Hanya beberapa hari. Tapi manfaatnya bagi persiapan pertandingan dinilai signifikan.
"Sebenarnya untuk (adaptasi) cuaca. Tapi TC (yang akan dilakukan) ini kan bukan yang satu atau dua minggu ke atas. Enggak. Ini hanya beberapa hari. Tapi bagi saya sebagai pelatih ini sangat bagus sekali," kata Imam di Pelatnas PBSI, Cipayung, Kamis (10/9/2026).
Ia menyoroti risiko jika atlet tiba di Jepang terlalu mepet dengan jadwal pertandingan. Adaptasi makanan, cuaca, dan lapangan bisa terganggu.
"Daripada kita berangkat ke sana, ada cuma beberapa, mungkin ada tiga hari, tahu-tahu kita sudah harus fight di pertandingan juga. Agak riskan menurut saya. Ya contohnya ada makanan enggak cocok. Tapi kalau menurut saya sih kalau Jepang sih cocok semua ya. Cuaca, lapangan, terus keadaan suatu tempat. Itu, tujuannya itu sih," lanjutnya.
Imam tidak menyiapkan antisipasi khusus soal cuaca. Kondisi di Jepang saat ini dinilai mirip dengan Jakarta.
"Saya rasa di sana juga enggak beda jauh. Mungkin antara 20 sampai 30 derajat. Panas pun mungkin enggak yang sampai 35 derajat. Jadi di sini juga memang lagi panas, ya kebetulan hampir sama lah dengan Jepang," tuturnya.
Dengan kemiripan itu, Imam berharap atlet bisa lebih cepat beradaptasi. Fokus utama bisa langsung diarahkan ke pertandingan.
Asian Games 2026 berlangsung di Aichi-Nagoya, Jepang, pada 19 September hingga 4 Oktober 2026. PBSI menurunkan 20 pemain untuk nomor beregu dan perorangan.
TC di Tokyo menjadi tahap terakhir persiapan sebelum tim bertolak ke Nagoya. Seluruh rangkaian diharapkan membuat atlet siap menghadapi tekanan pertandingan.