BANDAR LAMPUNG — Kerajinan tangan khas Lampung menyimpan narasi yang lebih dalam daripada sekadar wujud fisik yang dipajang. Benang emas pada tapis, detail sulaman usus, beragam motif batik, hingga anyaman berbahan alam menunjukkan bagaimana tradisi lokal beradaptasi dengan perkembangan zaman. Setiap produk yang dihasilkan tidak hanya membawa jejak daerah dan keterampilan perajin, tetapi juga nilai budaya yang sering kali tidak tercermin dari banderol harganya.
Pemerintah daerah mencatat bahwa tapis, sulam usus, tenun, sulam jelujur, manduaro, tumbung manuk, dan berbagai bentuk kriya lain merupakan bagian dari kekayaan wastra Lampung. Produk-produk ini tidak lagi terbatas pada pakaian adat, melainkan telah dikembangkan menjadi busana, tas, sepatu, aksesori, hingga elemen dekorasi rumah.
Pemerintah Provinsi Lampung mencatat tapis dan sulam usus sebagai kerajinan dengan karakter unik yang berpotensi dipasarkan hingga tingkat nasional dan internasional. Menjelang 2026, Dekranasda Lampung juga menyiapkan berbagai kriya untuk dibawa ke sejumlah agenda nasional, termasuk Kriya Nusa 2026. Tapis, Batik Lampung, sulam usus, fashion, serta kerajinan bernuansa Lampung akan menjadi materi promosi utama dalam ajang tersebut.
Tapis merupakan salah satu kerajinan dengan identitas budaya paling kuat di Lampung. Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Lampung menjelaskan bahwa tapis adalah kain sarung wanita yang dibuat dari tenun benang kapas dengan motif flora dan fauna, kemudian dihias menggunakan benang emas atau perak dengan teknik sulam cucuk. Kain ini digunakan dalam lingkungan masyarakat adat Saibatin dan Pepadun.
Nilai sebuah kain tapis dipengaruhi oleh beberapa faktor penting:
Pemerintah Lampung pernah mencatat bahwa proses pembuatan tapis dapat memerlukan waktu satu hingga enam bulan, bergantung pada tingkat kerumitan motif dan proporsi benang emas. Karena itu, harga tapis yang lebih tinggi dibandingkan produk massal bukan tanpa alasan.
Berbeda dengan tapis, sulam usus memiliki bentuk visual yang khas dan telah berkembang menjadi bagian dari busana modern. Pemerintah Provinsi Lampung mencatat produk sulam usus digunakan dalam pakaian seperti cardigan dan outer, membuktikan teknik tradisional mampu diterjemahkan menjadi busana yang relevan dengan kebutuhan masa kini. Sulam usus cocok bagi pembeli yang ingin mengenakan unsur Lampung tanpa selalu menggunakan kain adat tradisional.
Produk sulam usus yang dapat dicari antara lain:
Batik Lampung menjadi pilihan bagi pencari wastra yang mudah dipadukan dengan pakaian sehari-hari. Motifnya membawa unsur visual yang berhubungan dengan identitas daerah dan menjadi salah satu kategori yang ditampilkan bersama tapis dan sulam usus dalam pengembangan ekonomi kreatif Lampung. Saat membeli batik, penting untuk memperhatikan teknik produksinya karena batik tulis, cap, dan produk bermotif batik memiliki proses serta nilai yang berbeda.
Selain tapis, pemerintah daerah juga menyebut tenun, sulam jelujur, manduaro, dan tumbung manuk sebagai bagian dari keragaman wastra yang masih dikembangkan. Dekranasda Lampung menyebut tumbung manuk sebagai salah satu wastra yang hampir punah dan mendorong pembinaan perajin untuk mempertahankannya. Membeli kerajinan lokal berarti turut menjaga keterampilan yang berisiko kehilangan ruang.
Tapis memiliki banyak tingkatan produk, sehingga pembeli perlu memahami apa yang dicari. Jika mencari oleh-oleh, pilihan yang tepat adalah aksesori tapis, tas kecil, dompet, clutch, hiasan rumah, atau produk fesyen beraksen tapis karena lebih ringan dan mudah dibawa. Sementara untuk koleksi wastra, periksa bahan dasar kain, teknik tenun dan sulam, kondisi benang, kerapian motif, informasi asal perajin, serta perkiraan usia jika diklaim sebagai kain lama. Jangan mudah percaya pada klaim "antik" tanpa informasi yang memadai.
Gedung atau jaringan Dekranasda Lampung dapat menjadi titik awal untuk mengenal produk kriya lokal. Dalam sejumlah kegiatan, Dekranasda memperkenalkan tapis, sulam usus, batik Lampung, dan produk wastra dari berbagai daerah di provinsi tersebut. Kelebihannya bukan hanya pada pilihan produk, tetapi juga kesempatan untuk memahami cerita di balik karya.
Pameran kriya juga menjadi tempat menarik untuk menemukan perajin secara langsung. Pada agenda Kriya Nusa 2026, Lampung merencanakan penampilan kain tapis dari berbagai produsen, Batik Lampung, fashion, dan demo pembuatan tapis. Acara semacam ini ideal bagi pembeli yang ingin melihat proses, bertanya mengenai bahan, sekaligus membandingkan beberapa produk.
Pencarian tidak perlu dibatasi hanya di Bandar Lampung. Data pemerintah menunjukkan pelaku usaha kriya tersebar di sejumlah wilayah. Dokumen Dinas Koperasi dan UKM Lampung mencatat pelaku tapis dan sulam usus di Bandar Lampung serta Lampung Selatan. Dokumen lain juga mencatat usaha tapis, sulam usus, anyaman lidi, dan kerajinan perak di Lampung Selatan. Membeli langsung dari sentra perajin memberikan pengalaman berbeda karena pembelian terhubung langsung dengan pembuat produk.
Harga bukan satu-satunya indikator kualitas. Untuk kain, pastikan tidak ada benang yang mudah terlepas, perhatikan kerapian sambungan, lihat konsistensi motif, periksa bagian belakang kain, dan tanyakan cara mencuci serta menyimpannya. Sulaman yang rapi biasanya memiliki pola konsisten, dengan benang yang tidak longgar atau mudah tertarik saat disentuh wajar. Produk dengan informasi perajin, kelompok usaha, atau daerah asal lebih mudah ditelusuri, terutama saat membeli produk dengan harga relatif tinggi.
Tradisi tidak harus selalu tampil dalam bentuk lama. Pemerintah daerah mencatat produk tapis telah dikembangkan menjadi busana dan produk fesyen, sementara sulam usus digunakan pada outer dan cardigan. Contohnya tas dengan panel tapis, outer dengan sulam usus, clutch bermotif Lampung, sepatu dengan aksen wastra, dekorasi dinding, sarung bantal, hingga aksesori fesyen. Pendekatan ini penting karena pelestarian budaya tidak hanya bergantung pada museum, melainkan tradisi akan lebih kuat ketika masih digunakan.
Satu produk kriya melibatkan rantai ekonomi panjang, mulai dari perajin, pemasok benang, penenun, penyulam, penjahit, pengemas, hingga penjual. Dekranasda Lampung menjalankan fungsi pembinaan, pelatihan, pendampingan, dan promosi agar perajin dapat menghasilkan produk lebih kompetitif. Pembelian produk lokal bukan sekadar transaksi, melainkan ada pengetahuan yang dipertahankan, keterampilan yang tetap bernilai ekonomi, dan ruang bagi generasi muda untuk melihat masa depan kerajinan tradisional.
Kerajinan tekstil memerlukan perlakuan berbeda dari makanan. Untuk kain, jangan memasukkan dalam keadaan lembap, gunakan pembungkus bersih, hindari tekanan berlebihan pada sulaman, simpan jauh dari benda tajam, dan tanyakan cara perawatan kepada penjual. Untuk aksesori, pisahkan dari barang yang mudah menggores, gunakan kotak atau pouch, hindari tekanan pada bagian sulaman, dan periksa kembali kondisi produk sebelum perjalanan pulang.
Apa kerajinan Lampung yang paling terkenal? Tapis merupakan salah satu yang paling kuat identitasnya, selain sulam usus, batik Lampung, tenun, dan berbagai wastra lainnya.
Apa perbedaan tapis dan sulam usus? Tapis merupakan kain tenun yang dihias dengan sulaman benang emas atau perak, sedangkan sulam usus memiliki karakter teknik dan tampilan berbeda serta banyak diterapkan pada busana modern.
Apakah tapis hanya bisa digunakan sebagai kain? Tidak, tapis telah dikembangkan menjadi berbagai produk fesyen dan aksesori, termasuk tas dan produk modern lainnya.
Di mana tempat mencari kerajinan Lampung? Dekranasda, sentra UMKM, pameran kriya, dan sentra perajin di berbagai kabupaten dapat menjadi pilihan, dengan pameran memberi kesempatan bertemu langsung dengan produsen.
Mengapa harga tapis bisa sangat berbeda? Perbedaan dipengaruhi bahan, teknik, kerumitan motif, ukuran, tingkat pengerjaan, serta waktu pembuatan yang bisa mencapai satu hingga enam bulan.
Membeli kerajinan tangan khas Lampung berarti membawa pulang sesuatu yang pernah dikerjakan dengan tangan, waktu, dan pengetahuan yang panjang. Di balik benang emas dan pola yang indah, ada perajin yang menjaga warisan Lampung agar tidak berhenti sebagai cerita masa lalu. Selama karya itu terus dipakai, dihargai, dan dibeli dengan kesadaran, tradisi akan tetap menemukan jalan untuk hidup.