BANDARLAMPUNG — BMKG Wilayah II mendeteksi pergerakan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK) pada Selasa (8/9/2026) pukul 13.00 WIB. Sebaran abu pada lapisan permukaan hingga ketinggian 7.000 kaki atau sekitar 2,1 kilometer bergerak ke arah selatan-barat, mengarah ke Samudera Hindia di barat daya Banten.
Keberadaan partikel abu pada ketinggian tersebut berpotensi menurunkan kualitas udara dan jarak pandang di wilayah yang terdampak, termasuk Lampung bagian selatan yang berada di lintasan sebaran.
Berdasarkan informasi BMKG, sebaran abu vulkanik pada lapisan rendah mencakup sebagian wilayah Banten bagian barat daya hingga Samudera Hindia. Pergerakan abu menjauhi puncak gunung ini terpantau konsisten ke arah barat daya dengan kecepatan mencapai 15 knot atau sekitar 27 kilometer per jam.
Masyarakat di pesisir selatan Lampung yang kerap dilintasi sebaran abu saat erupsi GAK diminta mewaspadai potensi hujan abu tipis yang dapat memengaruhi aktivitas harian.
Hingga waktu pengamatan, intensitas abu vulkanik diprakirakan tidak mengalami perubahan signifikan dibandingkan periode sebelumnya. Status No Change (NC) menunjukkan belum terdapat perubahan berarti terhadap luas maupun intensitas sebaran abu vulkanik.
Kendati demikian, BMKG tetap mengingatkan bahwa sebaran abu pada radius tertentu masih dapat menurunkan kualitas udara. Kelompok rentan seperti lansia dan anak-anak disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan jika wilayahnya terpapar abu vulkanik.
Keberadaan abu vulkanik pada ketinggian hingga 7.000 kaki menjadi perhatian bagi aktivitas penerbangan di sekitar Selat Sunda. Maskapai dan pilot diimbau memperbarui informasi keselamatan penerbangan terkait sebaran abu vulkanik.
BMKG akan terus memantau perkembangan sebaran abu dan memberikan pembaruan informasi secara berkala. Masyarakat diminta mengikuti arahan dari otoritas setempat serta memanfaatkan kanal resmi BMKG untuk informasi terkini.