LAMPUNG — Kepala Badan Geologi, Lana Saria, melaporkan rentetan erupsi itu terjadi dalam periode yang sangat pendek. Meski frekuensinya tercatat delapan kali, intensitasnya tergolong lemah dan tidak menghasilkan kolom abu yang signifikan.
"Kita melihat ada sebanyak 8 kali, tetapi ini dalam rentang yang sangat pendek, hanya 10 sampai 15 detik. Jadi tidak ada penyebaran (abu vulkanik), penyebarannya hanya di sekitar gunung saja," kata Lana kepada wartawan, Selasa (8/9).
Lana menjelaskan, erupsi yang terekam saat ini menandakan Gunung Anak Krakatau telah kembali ke fase Strombolian, pola erupsi yang menjadi karakteristik gunung tersebut. Fase ini ditandai dengan letusan yang amplitudonya tidak luas dan durasi yang singkat.
"Artinya dengan kembalinya fase erupsi kepada karakter Anak Krakatau, mudah-mudahan ini sudah kembali kepada sifat atau karakter dari Anak Krakatau," ujarnya.
Data seismik yang dihimpun Badan Geologi menunjukkan tren penurunan sejak 5 September. "Pergerakan seismik itu sudah menurun. Aktivitas vulkanik tidak terlalu tinggi, tetap terekam, tapi itu adalah hal yang wajar karena pergerakan fluida di dalam tubuh gunung api," kata Lana.
Badan Geologi menetapkan radius aman tiga kilometer dari pusat aktivitas gunung. "(Radius erupsi) tidak melebihi 3 kilometer. Jadi kami masih menetapkan radius aman untuk tidak dimasuki sejauh 3 kilometer dari pusat aktivitas," tegas Lana.
Kendati erupsi berdurasi pendek, ancaman abu vulkanik tetap ada. Penyebarannya bergantung pada arah angin, kolom udara, dan intensitas erupsi. "Ancaman itu masih ada. Penyebaran abu vulkanik masih kami nyatakan sebagai potensi risiko bahaya, tapi semua tergantung pada arah angin dan intensitas erupsi tersebut," imbuhnya.
Gunung Anak Krakatau berada pada Level III atau Siaga. Status ini tidak berubah sejak sebelumnya, sejalan dengan karakter erupsi yang masih fluktuatif. Masyarakat dan wisatawan diminta tidak mendekati area dalam radius yang telah ditetapkan.