LAMPUNG — Langkah awal pembangunan PLTS raksasa ini ditandai dengan seremoni di Gilimanuk, Jembrana, Bali, Selasa (25/8). Dari 14 proyek perdana tersebut, kebutuhan dananya mencapai US$7,7 miliar atau setara Rp135 triliun. "Kita tidak main-main, target kita adalah 100 gigawatt dalam 3 tahun," tegas Prabowo dalam sambutannya.
Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menyebut proyek perdana 5,3 GW ini sejatinya sudah menjadi proyek PLTS berjalan terbesar di dunia. Sebagai perbandingan, proyek serupa di Uni Emirat Arab hanya berkapasitas 5,2 GWp. "Jadi, proyek (tahap awal) 5,3 GW pun adalah ongoing project terbesar di dunia," ujarnya.
Di balik megahnya angka investasi, para pengamat menyoroti dua hambatan yang berpotensi mengusir minat investor swasta. Pengamat Ekonomi Energi Universitas Gadjah Mada Fahmy Radhi menilai skema build, own, operate and transfer (BOOT) kurang atraktif karena mewajibkan pengalihan aset ke pemerintah setelah masa konsesi berakhir.
Selain itu, harga jual listrik dari produsen listrik swasta atau independent power producer (IPP) kepada PLN yang berkisar US$0,12–0,15 per kWh dinilai belum mencapai tingkat keekonomian yang menarik. Padahal, kebutuhan modal yang sangat besar membuat partisipasi swasta menjadi kunci utama pembiayaan.
"Satu-satunya sumber dana yang realistis bisa digunakan adalah berasal dari investor. Masalahnya, selama ini investor kurang tertarik untuk investasi di PLTS Indonesia," tegas Fahmy.
CEO Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa mengingatkan agar keberhasilan program tidak diukur dari seremoni semata. Ia menekankan bahwa indikator utama adalah berapa gigawatt PLTS yang benar-benar terbangun, tersambung ke jaringan, dan mampu menghasilkan listrik secara andal sebelum 2029.
Untuk mencapai itu, pemerintah perlu memastikan regulasi yang solid, tata kelola proyek yang transparan, serta kontrak jual-beli listrik yang bankable. Kesiapan jaringan transmisi juga menjadi pekerjaan rumah besar, terutama untuk menyalurkan listrik dari PLTS yang lokasinya tersebar.
PLN sendiri telah menyiapkan pengembangan PLTS skala besar di Pulau Jawa. Sekitar 30 GW PLTS akan dikombinasikan dengan 100 GWh battery energy storage system (BESS) untuk menjaga keandalan sistem saat produksi listrik surya berfluktuasi akibat cuaca.
Ambisi 100 GWp ini memaksa pemerintah bergerak cepat me