Nafkah Anak Ruben Onsu 8 Bulan Tertahan: Ini Penjelasan Hukum dan Alasan di Baliknya

Penulis: Teguh Prasetyo  •  Senin, 07 September 2026 | 14:52:01 WIB
Kuasa hukum Ruben Onsu menyatakan kliennya menunggu rincian biaya riil anak sebelum melanjutkan pembayaran nafkah.

LAMPUNG — Kabar kurang sedap datang dari rumah tangga Ruben Onsu dan Sarwendah yang telah bercerai. Ruben dituding menelantarkan anak-anaknya karena tak kunjung memberikan nafkah selama delapan bulan. Namun, kuasa hukum Ruben, Minola Sebayang, membantah keras tudingan tersebut dan membeberkan fakta di baliknya.

Minola menegaskan bahwa kliennya sama sekali tidak berniat menghentikan kewajibannya sebagai ayah. Justru, Ruben merasa kecewa karena dituding sengaja menyetop nafkah, padahal ada alasan khusus yang belum ia ungkap ke publik.

Menunggu Rincian Biaya Riil Anak

Minola menjelaskan, persoalan ini bukan tentang mampu atau tidaknya Ruben memberikan nafkah. Selama bertahun-tahun, Ruben diklaim rutin memberikan dana hingga ratusan juta rupiah per bulan untuk kebutuhan anak-anaknya.

"Konteksnya bukan masalah mampu dan tidak mampu. Konteksnya adalah kita sedang menunggu berapa riil biaya anak-anak itu tiap bulannya, biaya pemeliharaan dan juga biaya pendidikan," ujar Minola saat ditemui di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (7/9/2026).

Pihak Ruben merasa perlu ada audit atau rincian pengeluaran yang jelas dari pihak Sarwendah. Hingga saat ini, rincian biaya pemeliharaan dan pendidikan tersebut dinilai belum pernah disampaikan secara transparan.

Keinginan Bayar Sekolah Langsung Terhalang Aturan

Kekecewaan Ruben semakin memuncak saat ia ingin membayar biaya pendidikan anaknya secara langsung ke pihak sekolah. Niat baiknya ini justru menemui hambatan dari pihak Sarwendah.

Ruben disebut telah berkomunikasi dengan pihak sekolah untuk mengetahui besaran biaya rutin. Sekolah pun kooperatif, namun terkendala aturan satu siswa satu akun email.

"Ruben minta diganti ke akunnya karena dia yang bertanggung jawab bayar pendidikan sesuai Akta 39. Faktanya, S berkirim surat kepada sekolah, dia tidak bersedia akun email itu diganti ke Ruben. Jadi harus tetap melalui ibunya. Semuanya retorika," jelas Minola.

Akibatnya, pembayaran pendidikan yang ingin dilakukan langsung oleh Ruben harus tetap melalui Sarwendah, yang membuat prosesnya menjadi tidak sederhana.

Akses Bertemu Anak Dipersulit dengan Syarat

Selain soal nafkah, ada hal yang lebih menyayat hati. Ruben merasa aksesnya untuk bertemu dan melepas rindu dengan anak-anaknya kerap dihalangi oleh berbagai syarat yang dianggap berlebihan.

Salah satu syarat yang dimaksud adalah pemeriksaan kesehatan yang harus dijalani Ruben setiap kali ingin bertemu dengan buah hatinya. Hal ini dinilai menjadi tembok penghalang hubungan seorang ayah dan anak.

"Bagaimana perasaan orang tua ketika dia dihalang-halangi oleh mantan pasangannya untuk tidak bertemu dengan anak-anaknya, dan ketika bertemu, diberikan 1001 macam alasan dan bermacam-macam syarat? Saya sangat sedih melihat Ruben itu tidak bisa bertemu dengan anak kandungnya. Coba bayangkan!" tegas Minola.

Pihak Ruben menyayangkan adanya framing di publik yang menggambarkan dirinya sebagai ayah yang menelantarkan anak. Padahal, di balik layar, ia berjuang untuk tetap menjalankan perannya, baik secara finansial maupun emosional, meski dihadapkan pada berbagai rintangan.

Kisah ini menjadi pengingat bahwa pasca perceraian, komunikasi dan transparansi antara kedua orang tua adalah kunci utama demi tumbuh kembang anak yang optimal. Kepentingan anak seharusnya selalu berada di atas ego masing-masing pihak.

Reporter: Teguh Prasetyo
Sumber: lifestyle.sindonews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top